Mitos Seputar Bayi Tabung, Benarkah Meningkatkan Risiko Kanker?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perempuan ingin hamil. Shutterstock

    Ilustrasi perempuan ingin hamil. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Bayi tabung atau in-vitro vertilization (IVF) menjadi pilihan banyak pasangan yang mengalami masalah kesuburan. Prosedur ini menggunakan metode ilmiah. Sel telur dari ibu disatukan dengan sperma ayah di luar tubuh, lalu disimpan di bawah pengawasan sebelum dimasukkan kembali ke tubuh.

    Proses ini terbilang aman. Meskipun demikian, masih banyak mitos yang harus diluruskan terkait bayi tabung. Ada yang mengatakan bahwa anak yang dilahirkan dari program bayi tabung akan berbeda, ada juga yang berpikir bahwa proses ini meningkatkan risiko kanker.

    Dikutip dari Times of India, berikut mitos seputar bayi tabung yang harus Anda ketahui kebenarannya.

    Anak dari bayi tabung berbeda
    Banyak yang masih berpikir bahwa anak dari program bayi tabung berbeda dengan bayi dari pembuahan alami. Tapi, anggapan itu salah. Anak dari bayi tabung dan dari proses alami sama-sama menggemaskan dan sehat. Satu-satunya perbedaan mereka hanya dari cara mereka dikandung.

    Bayi tabung tidak bisa dilakukan pada orang obesitas
    Ada anggapan bahwa program bayi tabung sulit dilakukan pada wanita obesitas atau kelebihan berat badan. Wanita, denganberat badan ideal atau obesitas, memiliki peluang untuk hamil. Dokter mengatakan bahwa indeks massa tubuh dan obesitas tidak berpengaruh pada proses pembuahan. Tapi memang, indeks massa tubuh yang tidak sehat dapat menurunkan jumlah sel telur pada sebagian wanita sehingga berpengaruh pada kesuburan. Tapi bukan berarti program bayi tabung tidak bisa dilakukan untuk wanita dengan obesitas. 

    Sel telur yang dibekukan akan rusak
    Banyak orang yang berpikir bahwa anak yang dilahirkan dari sel telur yang dibekukan akan lebih lemah atau memiliki cacat lahir. Faktanya, embrio jauh lebih kuat dari yang Anda bayangkan. Telur manusia memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di dalam freezer dalam waktu lama tanpa menjadi 'lemah' atau 'buruk'. Teknologi reproduksi telah berkembang sangat pesat sehingga pasangan sekarang dapat memilih untuk menggunakan telur beku yang diawetkan dari tahun lalu untuk hamil.

    Terapi hormon membuat Anda moody
    Terapi hormon, yang biasanya dilakukan sebelum proses bayi tabung, sering dianggap membuat wanita moody. Alasannya, wanita biasanya diresepkan hormon estrogen dosis tinggi untuk meningkatkan kesuburan dan hal itu cenderung mempengaruhi suasana hati mereka. Bahkan emossi mereka lebih buruk, sama dengan ketika mengalami menstruasi. Namun, hal itu tidak selalu benar karena dampak terapi hormon kesuburan akan berbeda pada setiap wanita, tidak selalu membuat moody.

    Bayi tabung bisa dilakukan di segala usia
    Banyak yang berpikir bahwa program bayi tabung bisa dilakukan untuk wanita segala usia karena ini dilakukan dengan ilmu pengetahuan. Tapi perlu diketahui bahwa bayi tabung mungkin bisa untuk wanita yang lebih tua, tapi angka keberhasilannya lebih rendah pada wanita di atas 45 tahun yaitu hanya sekitar 50 persen. Tapi jika wanita itu menggunakan sel telur donor, tingkat keberhasilannya bisa naik.

    Meningkatkan risiko kanker
    Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang bayi tabung adalah hal itu berpotensi meningkatkan risiko wanita terkena kanker payudara dan ovarium karena wanita disuntik dengan hormon. Sekali lagi, ini benar-benar salah dan telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun telah membuktikan bahwa bayi tabung tidak memiliki faktor risiko yang berkontribusi terhadap kanker.

    Namun, Stephanie Bernik, seorang ahli kanker payudara dan kepala onkologi bedah di Lenox Hill Hospital di New York City, perempuan yang memiliki risiko tinggi kanker payudara tetap harus berhati-hati dengan terapi hormon dosis tinggi pada programbayi tabung.

    TIMES OF INDIA | WEB MD 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.