Minggu, 22 September 2019

Alasan Fenita Arie Mulai Perawatan Antipenuaan dari Usia 25 Tahun

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fenita Arie sebagai brand ambassador terbaru Wardah. TEMPO | Astari P Sarosa

    Fenita Arie sebagai brand ambassador terbaru Wardah. TEMPO | Astari P Sarosa

    TEMPO.CO, Jakarta - Artis Fenita Arie sudah mulai menggunakan produk perawatan kulit untuk antipenuaan sejak usia 25 tahun. Fenita menyadari bahwa di usia 25 tahun, regenerasi kulit mulai melambat.

    Banyak yang merasa tidak perlu menggunakan perawatan kulit antipenuaan di usia 25 tahun karena belum merasa tua. Namun Fenita Arie merasakan keuntungan dari menggunakan perawatan antipenuaan di usia tersebut. 

    “Banyak orang saat menua berpikir pakai makeup saja cukup, tapi itu pasti kelihatan, karena yang perlu dijaga adalah kesehatan kulitnya,” tutur Fenita di Jakarta Selatan, Selasa, 16 Juli 2019.

    Fenita mengatakan bahwa penuaan adalah suatu hal yang perlu disyukuri, namun menjaga kesehatan kulit tetap menjadi suatu hal yang penting. Tanda-tanda penuaan yang pertama kali terlihat di wajah Fenita adalah noda hitam.

    “Kita tahu faktor utama dari penuaan dini adalah matahari dan kalau saya, tambahan lampu syuting. Lampu yang membuat wajah bersinar di televisi itu mempercepat penuaan,” lanjut Fenita.

    Dia mengatakan sebelum usia 25 tahun sudah melihat tanda-tanda penuaan. Karena itu, Fenita menganjurkan semua wanita untuk mulai menggunakan produk perawatan antipenuaan di usia 25 tahun atau sebelumnya. 

    “Jangan sampai baru menggunakan produk perawatan saat kulit sudah menunjukkan banyak tanda-tanda penuaan,” jelas Fenita. Bila wajah sudah terlihat kusam, sebaiknya gunakan produk antipenuaan. Selain itu, ia juga menjaga kesehatan dengan berolahraga dan gaya hidup sehat lainnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.