Dokter Ingatkan Bahaya Lari Jarak Jauh tanpa Persiapan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi lari maraton (pixabay.com)

    Ilustrasi lari maraton (pixabay.com)

    TEMPO.CO - Jakarta, Dokter ahli dan spesialis kedokteran olahraga dr Michael Triangto Sp.KO., mengingatkan risiko yang bisa terjadi pada olahraga lari jarak jauh bila tidak memiliki persiapan. Dokter dari RS Mitra Kemayoran itu mengatakan olahraga lari memiliki risiko, mulai dari yang ringan hingga yang paling parah adalah kematian.

    "Dalam perkembangan fenomena olahraga lari ini juga terdapat berbagai kasus ringan seperti cedera, terkilir, overused injury, dehidrasi, hingga yang berat seperti pingsan bahkan meninggal," katanya.

    Kasus-kasus risiko berat tersebut pun dinilai sebagai puncak gunung es karena banyak kejadian pingsan atau kematian akibat olahraga lari yang tak terlaporkan.

    Baca juga:
    Tips buat yang Ingin Ikut Lomba Lari Maraton

    "Dalam catatan sejarah olahraga maraton yang berawal dari Pheidippides, seorang prajurit Yunani yang berlari sejauh 42.195 kilometer ke Athena untuk memberitahukan kemenangan perang di Maraton yang berakhir dengan kematiannya, mengingatkan kita kalau berlari sejauh itu dapat berakibat fatal bila tidak memiliki kesiapan fisik yang prima," katanya.

    Ilustrasi lari (pixabay.com)

    Untuk itu, ia berpendapat peran serta dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai permasalah yang ada, menekan terjadinya gangguan kesehatan dan tetap menjaga tren positif dari olahraga lari yang hingga saat ini masih digemari oleh masyarakat. Dia menganjurkan seseorang yang ingin mengikuti lomba lari agar mengikutinya secara bertahap mulai dari kelas 5 km, 10 km, dan separuh marathon.

    "Pelari itu sendiri yang harus memeriksakan kesehatan maupun kebugaran tubuhnya secara teratur, dinyatakan dalam bentuk sertifikat kesehatan untuk berlari dalam tingkatan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan demikian diharapkan tidak akan ada pemula yang dapat langsung mengikuti lomba maraton tanpa melalui 5 km, 10 km, half marathon terlebih dahulu," katanya.

    Artikel lain:
    Lari Bukan Hanya Gaya Hidup, Manfaatnya buat Fisik dan Mental

    Setelah cek kesehatan, pelari itu juga disarankan untuk mengatasi masalah kesehatan pada dirinya apabila memang terbukti ditemukan suatu penyakit. Ia mengatakan olahraga lari sangat baik untuk kesehatan dan kebugaran, namun perlu diketahui bahwa juga terdapat risiko yang mungkin terjadi apabila tidak dilakukan secara tepat.

    "Dari sudut kedokteran olahraga, kami melihat peningkatan minat masyarakat dalam berolahraga lari ini merupakan kabar baik yang diharapkan mampu meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan dapat mengurangi terjadinya penyakit-penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes melitus, hipertensi, kolesterol, darah tinggi, dan penyakit-penyakit lain bilamana kita mampu mengantisipasi hal–hal negatif yang mungkin terjadi," jelasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.