Saran Dokter agar Ibadah Haji Tak Terganggu Menstruasi

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Ibadah Haji. Getty Images

    Ilustrasi Ibadah Haji. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Siklus menstruasi, yang menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian jemaah perempuan selama masa berhaji, dapat dikendalikan supaya tidak sampai mengganggu pelaksanaan rukun dan wajib haji. Perempuan yang berada pada usia reproduksi bisa mengatur jumlah hormon dalam tubuhnya dengan bantuan obat-obatan.

    Pengaturan tersebut ditujukan untuk mengendalikan hormon dalam upaya menyesuaikan siklus menstruasi dengan waktu pelaksanaan rukun dan wajib haji. Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) pun menyediakan layanan konsultasi guna membantu jemaah haji perempuan mengendalikan jadwal haid agar bisa menjalankan semua rukun dan wajib haji di Tanah Suci.

    Jemaah haji perempuan bisa mendatangi petugas kesehatan haji untuk meminta layanan konsultasi dengan dokter spesialis kebidanan mengenai kesehatan reproduksi.

    Baca juga:
    Jaga Kesehatan saat Menunaikan Ibadah Haji dengan 4 Kiat Berikut

    "Jadi, pada jemaah wanita yang usia reproduksi yang berusaha untuk mengatur siklus haidnya agar pada waktu ibadah wajib itu tidak mengalami menstruasi, jemaah bisa mengaturnya dengan memajukan atau memundurkan siklus haidnya," kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan dr. Mona, Sp.OG.

    Mona, dokter spesialis kebidanan anggota Tim Promotif Preventif 2019, mengatakan bahwa jamaah haji perempuan yang ingin mengontrol siklus haid bisa melakukan rekayasa hormonal dengan mengonsumsi obat-obatan yang mengandung hormon, seperti pil kontrasepsi yang mengandung hormon estrogen dan/atau progesteron dengan dosis tertentu.

    Namun, penggunaan pil kontrasepsi tidak boleh dilakukan secara sembarangan, tetapi harus berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter, baik saat di Indonesia maupun ketika di Arab Saudi. Pada beberapa orang, pemakaian pil kontrasepsi memiliki efek samping seperti sakit kepala dan mual.

    ilustrasi Haji (pixabay.com)

    Masalah itu menurut dokter bisa diatasi dengan mengganti kombinasi obat yang mengandung hormon atau dengan menggunakan metode kontrasepsi lain, seperti suntik.

    "Untuk kapan digunakan obat itu, kapan dia pakai itu, sudah harus dikonsultasikan sama dokter yang bertugas untuk memantau kapan waktu haidnya. Jadi pada waktu wukuf nanti sudah diprediksi, 'Oh saya tidak akan haid pada waktu nanti'," jelas Mona.

    Ia menyarankan perempuan yang akan mencoba menggunakan metode kontrasepsi saat berhaji atau umrah mengetahui masa siklus haidnya supaya bisa memperhitungkan apakan harus memajukan atau memundurkan siklus haid dan kapan harus melakukannya. Kontrasepsi menggunakan obat dengan kandungan hormon progesteron bisa digunakan dua minggu sebelum waktu siklus haid berikutnya.

    Artikel lain:
    5 Tips Menabung Buat yang Ingin Naik Haji di Masa Datang

    Apabila menggunakan obat yang mengandung kombinasi hormon (progesteron dan estrogen), obat bisa diminum pada hari kedua sampai kelima siklus haid. Berikutnya, ada alternatif selain penggunaan pil, yaitu kontrasepsi jenis suntik.

    Ada dua pilihan yang tersedia, suntikan untuk jangka empat minggu atau 12 minggu. Mona juga mengingatkan pentingnya mengonsumsi pil secara teratur. Kalau konsumsi pil tidak teratur, gangguan seperti keluar flek atau pendarahan bisa terjadi, dan bahkan menstruasi bisa tetap datang.

    Ia mencontohkan, jika pil harus diminum sehari dua kali, maka pembagiannya harus konsisten setiap 12 jam sekali minum satu pil. Jika konsumsi pertama pukul 07.00, maka pil kedua harus diminum pukul 19.00, tidak boleh sampai terlambat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.