Bahaya Migrain pada Ibu Hamil

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hamil bermasalah. shutterstock.com

    Ilustrasi hamil bermasalah. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Wanita hamil yang mengalami migrain memiliki risiko keguguran yang lebih tinggi, melahirkan melalui operasi Caesar, dan melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah. Begitu hasil sebuah penelitian.

    Seperti dilansir dari Indian Express, untuk sampai pada temuan itu, para peneliti di Universitas Aarhus di Denmark mempelajari 22 ribu wanita hamil dengan migrain. Mereka lalu membandingkan para partisipan ini dengan para wanita hamil tanpa migrain.

    Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Headache itu menunjukkan risiko operasi caesar 15- 25 persen lebih tinggi pada wanita hamil dengan migrain dibanding mereka yang tidak migrain. Bayi yang lahir dari ibu dengan migrain, berisiko lebih tinggi memiliki berat lahir rendah, mengalami sindrom gangguan pernapasan, dan demam disertai kejang. Para peneliti menyimpulkan, obat migrain mungkin mencegah beberapa komplikasi.

    Baca juga:
    Gejala Migrain yang Sering Ditafsirkan Sakit Kepala Biasa
    Cardi B Punya Cara Khusus Meredakan Migrain yang Dideritanya

    “Risiko komplikasi umumnya lebih rendah pada wanita hamil dengan migrain yang minum obat dibandingkan dengan wanita hamil dengan migrain yang tidak dirawat, ” kata Nils Skajaa dari Universitas Aarhus.

    "Ini juga menunjukkan obat migrain bukan penyebab komplikasi, melainkan migrain itu sendiri. Ini adalah pengetahuan penting bagi wanita hamil dengan migrain, ”tambahnya.

    Migrain relatif umum dan mempengaruhi wanita dua kali lebih banyak daripada pria. Penyebab sebenarnya masih belum diketahui, tetapi penelitian sebelumnya menunjukkan hal ini mungkin dipicu stres, kelelahan, atau perubahan hormon misalnya terjadi saat kehamilan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.