Bekam, Terapi Tradisional yang Kian Diminati dan Banyak Manfaat

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi terapi bekam. shutterstock.com

    Ilustrasi terapi bekam. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Bekam merupakan teknik terapi di mana kulit seseorang di sedot dengan alat khusus untuk mengatasi masalah kesehatan. Bekam yang lebih modern biasanya menggunakan mangkuk atau gelas yang terbuat dari melamin hingga sampai media khusus sendiri yang bisa diatur kekuatan sedotannya dengan alat vakum.

    Ada juga bekam menggunakan tanduk. Prosesnya, penyedotan hingga menempel di tubuh, tanduk dibakar terlebih dulu selama dua detik yang kemudian bisa menempel dan menyedot hingga mencengkram kuat pada tubuh.

    "Ini menggunakan metanol atau spirtus, kalau menggunakan minyak tanah atau bensin cepat mati jika membakar lubang tanduk," kata terapis bekam asal Sumatera Barat Munir Rau.

    Artikel lain:
    Bekam, Bukan Sekadar Obat Masuk Angin

    Dia menjelaskan, pembakaran tanduk dilakukan sekitar sepuluh detik lalu tanduk ditempelkan ditubuh pasien. Efek yang ditimbulkan itu rasa hangat di tubuh, semakin pasien bergerak, semakin tanduk itu mencengkram kuat. Yang kemudian membutuhkan waktu sekitar lima menit setelah tanduk sapi menempel di tubuh pasien.

    Menurutnya, metode bekam dengan menggunakan tanduk sapi ini karena alami, kelebihannya dipakai bisa lama, dan tidak mengandung efek samping pada pasien karena dilakukan pembakaran sebelum ditempelkan agar kuman-kuman mati dan lebih steril.

    Ukuran tanduk yang digunakan, umumnya panjang 15 hingga 20 sentimeter, dengan diameter lima sentimeter. Bahkan ada yang panjangnya selengan orang dewasa hingga sekecil telunjuk atau jempol untuk yang di gunakan pada leher.

    Munir menjelaskan tidak ada teknik khusus dalam metode bekam tanduk ini. Dia secara mempelajari secara otodidak dari kakeknya yang merupakan terapis tradisional juga sekitar tahun 2000-an. Sebelum dibekam, ia memijat bagian-bagian tubuh yang akan dibekam dengan menggunakan minyak bayi.

    Bekam dengan tanduk. TEMPO/Suryo Wibowo.

    Ia menjelaskan kalau bekam yang dilakukannya ada yang kering dan basah. Jika kering hanya sekedar dipijat dan dibekam, sedangkan bekam basah itu sampai dikeluarkan darahnya.

    "Itu juga tergantung pasien, apabila tidak mau ambil darah ya terapi saja. Pengambilan atau keluar darah itu penyakit yang menahun, sesuai pasiennya saja," kata Munir.

    Ia menjelaskan, apabila dikeluarkan darah sekitar 2-3 sendok darah kotor atau toksin. Efek sampingnya luar biasa, darah lancar kembali.

    Baca juga:
    Bekam, Terapi Tradisional yang Diminati Atlet Olimpiade

    "Tubuh kita kan menghasilkan darah, jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh," katanya.

    Penyakit yang bisa disembuhkan di antaranya membuang racun, angin, dan kolesterol, melancarkan peredaran darah, mengatasi demam, mengatasi kelelahan, meredakan nyeri dan keluhan. Terpai ini juga bisa menyembuhkan banyak penyakit, mngobati banyak masalah kulit, memperbaiki beberapa sistem tubuh hingga menghilangkan sihir.

    Salah satu rumah sakit yang sudah mengembangkan teknik ini yakni RSUD Soetomo Surabaya, yang kini sudah lebih maju. Selain rumah sakit, pengobatan tradisional juga diajarkan di perguruan tinggi, salah satunya Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.