Yang Harus Dipahami Ibu saat Bayi Menangis

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Bayi menangis. TEMPO/Aditia noviansyah

    Ilustrasi Bayi menangis. TEMPO/Aditia noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu kebingungan yang sering dialami ibu baru adalah menghadapi bayi menangis. Begitu menurut spesialis anak dari RSAB Harapan Kita, dr Lucia Nauli Simbolon, SpA.

    "Bukan hanya satu tetapi semua pasien kontrol habis melahirkan bingung bayinya menangis. Mereka cenderung menyusui bayi (saat bayi menangis)," katanya.

    Menangis menjadi satu-satunya bahasa bayi dan bisa menandakan banyak hal, mulai dari lapar, buang air, merasa tak nyaman, dan sebagainya.

    Baca juga:
    7 Ciri Orang Sensitif, Bukan Cuma Suka Menangis dan Marah

    "Kita harus tahu bahasa bayi dulu. Biasanya 3-6 bulan pertama kita belajar bayi nangis maunya apa. Kita hanya tahu dia menangis karena lapar sehingga disusui terus," tutur Lucia.

    Saat usia bayi bertambah, perlahan dia akan mengeluarkan berbagai bunyi dan ini menurut Lucia perlu menjadi perhatian khusus orang tua. Saat dia menunjuk sesuatu, coba ajarkan cara menyebut hal yang dia tunjuk untuk melatihnya berbicara.

    Praktisi neurosains Terapan dr. Anne Gracia pernah mengatakan memijat wajah anak sejak bayi salah satu bentuk stimulus yang bermanfaat bagi kemampuan berbicaranya.

    "Setiap sentuhan di wajah bayi (salah satunya melalui pemijatan) akan mengelola otot di sekitar mulut yang bermanfaat bagi kemampuan bicaranya kelak," kata dia.

    Artikel lain:
    Tak Perlu Malu Menangis, Cek 3 Manfaatnya buat Jiwa dan Raga


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.