Priyanka Chopra Dibully karena Warna Kulit saat Sekolah Menengah

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Priyanka Chopra di Met Gala 2019. Instagram/@priyankachopra

    Priyanka Chopra di Met Gala 2019. Instagram/@priyankachopra

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang yang mengalami masalah saat sekolah menengah, begitu juga dengan Priyanka Chopra. Meskipun ia kemudian memenangkan kontes Miss World dan menjadi salah satu aktris dan pebisnis terbesar di dunia, istri Nick Jonas ingin mengalami bullying karena warna kulitnya saat sekolah menengah di Amerika Serikat.

    Baca juga: Priyanka Chopra dan Nick Jonas Tampil Serasi di Met Gala 2019

    Aktris kelahiran Indira, 18 Juli 1982 ini menceritakan pengalamannya kepada Associated Press saat sekolah di Massachusetts, Iowa, dan New York City. "Saya diperlakukan berbeda karena kulit saya kecokelatan. Saya mengalami perilaku rasis ketika saya masih di sekolah menengah di kelas 10. Saya dipanggil 'Brownie,' 'Curry,' dan itu benar-benar memengaruhi saya ketika saya masih kecil dan memengaruhi harga diri saya,” ujarnya seperti dilansir dari laman Cosmopolitan.

    Dari wawancara tahun 2012, Priyanka Chopra menganggap dirinya anak yang aneh dengan tanda putih di kakinya. Namun ia dapat menerima kekurangannya itu dan berhasil membuatnya berbeda seperti saat ini.

    Dia mengatakan kepada International Business Times, "Satu-satunya yang saya tahu adalah bekerja keras dan belajar. Saya tidak tahu bagaimana harus bertindak atau memenangkan kontes kecantikan. Tapi saya bekerja keras. Hari ini, kaki saya menjual 12 merek,” ujar Chopra.

    Meski sempat mendapat intimidasi di sekolah menengah, kini Priyanka Chopra berani berbagi pengalamannya dan mencoba perubahan untuk dunia yang lebih inklusif. "Semakin kita bisa membicarakannya dan membuka mata orang lain dan mengatakan 'tidak harus seperti itu' dan memberi mereka lebih banyak contoh, saya kira masyarakat akan berubah," katanya kepada AP. "Aku benar-benar ingin menciptakan dunia di mana anak-anak masa depanku tidak perlu memikirkan keragaman, di mana mereka tidak membicarakannya karena itu normal."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.