Makna Kecantikan Bagi Asmara Abigail

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asmara Abigail. Instagram/@asmaraabigail

    Asmara Abigail. Instagram/@asmaraabigail

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagi aktris Asmara Abigail kecantikan seseorang terlihat bukan dari penampilan fisik, tapi dari energi yang mereka miliki. Asmara Abigail mengatakan wanita yang bisa membuat orang lain merasa bahagia itu akan terlihat lebih cantik dibanding wanita yang menyebarkan energi negatif.  

    Baca juga: Switch, Drama Serial Tentang Perempuan dari Nia Dinata

    “Hal yang mengurangi kecantikan adalah saat seseorang menyebarkan energi negatif yang membuat orang lain merasa tidak senang. Itu akan mengurangi level kecantikan Anda,” tutur Asmara Abigail, di Beautyfest Asia 2019, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat 29 Maret 2019.

    Asmara Abigail, Kimmy Jayanti, Shafeera Daanish, sebagai muse untuk Acara Make Over 'Wanted' di Jakarta Fashion Week, 24 Oktober 2017. Tempo/Astari Pinasthika Sarosa

    Sedangkan wanita yang menyebarkan energi positif akan memiliki level kecantikan yang lebih tinggi. Meskipun secara fisik mungkin tidak mengikuti standar kecantikan masyarakat. Kecantikan yang dari dalam akan memiliki dampak lebih besar dan lebih lama dibanding kecantikan dari luar.

    Asmara Abigail mendapatkan perspektif ini dari keluarganya yang selalu membesarkannya dengan penuh cinta dan energi-energi yang positif. “Gaya aku itu selalu didukung keluarga. Aku bersyukur tumbuh besar di keluarga yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan,” lanjut Asmara Abigail.

    Menurut wanita kelahiran 3 April 1992 ini, manusia mendapatkan kenikmatan sendiri saat menyakiti orang lain. Sebab itu, harus mengetahui cara mengendalikan sifat tersebut. Dia bersyukur keluarganya jauh dari hal-hal negatif seperti itu, dan berharap dia bisa menyebarkan energi positif untuk orang di sekitarnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.