Kapan Anak Boleh Pegang Gadget? Simak Penjelasan Psikolog

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak dan gadget. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak dan gadget. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan gadget pada anak seperti pedang bermata dua. Anak yang anteng ketika bermain ponsel membuat orang tuanya bisa melakukan sesuatu dengan leluasa. Namun jika dibiarkan terus-menerus, maka akan mempengaruhi tumbuh kembang anak.

    Baca: Ini Efek Negatif Berikan Anak Gadget Sejak Dini

    Psikolog dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim mengatakan sejatinya anak bawah tiga tahun atau batita dan bawah lima tahun atau balita jangan diberikan gadget. “Gadget itu tidak perlu diperkenalkan sejak dini kepada batita dan balita," kata Rose Mini di Jakarta.

    Kalaupun penggunaan gadget tidak bisa dihindari, Rose Mini mengatakan, maka waktu yang tepat adalah saat anak sudah bisa membedakan yang baik dan buruk untuk dirinya. "Namun itu pun harus tetap diawasi penggunaannya oleh orang tua," ucap dia.

    Ilustrasi anak dan orang tua bermain gadget. itechgadget.com

    Jika di televisi ada parental lock, di gadget juga jangan semua hal diberikan kepada anak. Orang tua, menurut Rose Mini, harus memberikan batasan waktu penggunaannya supaya tidak adiksi pada gadget. "Nantinya, mereka tidak mawas diri dengan kondisi lingkungan sekitar, bisa marah-marah sampai tantrum ketika diambil gadget-nya,” kata Rose Mini.

    Baca juga: Tips Parenting: Anak Cerdas tanpa Gadget versi Psikolog

    Rose Mini mengingatkan adiksi pada gadget mengakibatkan kurangnya stimulasi kognitif, motorik halus, motorik kasar, sensorik, psikologi sosial. Ketika anak hanya menonton video, maka hanya satu kegiatan yang dilakukan. Sementara ketika diajak bicara oleh orang tua, anak belajar mempelajari ekspresi, membangun ikatan bersama, dan belajar bahasa ibu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.