Celine Dion Tak Ingin Publik Fokus pada Perubahan Fisiknya

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Celine Dion. Instagram/@celinedion

    Celine Dion. Instagram/@celinedion

    TEMPO.CO, Jakarta - Penampilan Celine Dion mencuri perhatian publik karena dinilai terlalu ramping dan gayanya terlalu aneh. Netizen bahkan menduga dia menderita anoreksia dan tidak terlihat sehat.

    Baca juga: Celine Dion Tampil Polos untuk Vogue

    Penyanyi berusia 50 tahun ini mengubah penampilannya setelah kematian suaminya, René Angélil, pada Januari 2016. Dia kini mulai tertarik pada fashion haute couture. Namun dia mengatakan dirinya tidak mengambil peluang, hanya memilih pakaian yang membuatnya merasa menarik.

    "Aku melakukan ini untukku. Saya ingin merasa kuat, cantik, feminin dan seksi, ” kata pelantun My Heart Will Go On ini dalam sebuah wawancara dengan Dan Wootton, dari ITV, The Sun dan The Dan Wootton Interview, seperti dikutip dari laman People.

    Celine Dion. Instagram/@celinedion

    Perubahan gaya busananya bersamaan dengan berat badannya yang terlihat semakin kurus. Tapi Celine Dion tak ingin membahas perubahan pada bentuk tubuhnya. "Saya menyukainya, saya tidak ingin membicarakannya. Jangan repot-repot. Jangan memotret," katanya. "Jika kamu suka, aku akan ada di sana. Jika kamu tidak, tinggalkan aku sendiri. "

    Celine Dion kini rutin berolahraga dan menari dengan penari latarnya Pepe Munoz, yang dikabarkan sebagai pacar barunya. Kabar ini dibantah tegas oleh Celine Dion. "Kami teman, kami teman terbaik," jelasnya. “Tentu saja kita berpelukan dan berpegangan tangan dan keluar, jadi orang-orang melihatnya. Maksudku, dia pria yang sopan," katanya. "Saya tidak keberatan karena dia tampan dan dia adalah sahabat saya."

    Artikel lain: Lihat Penampilan Celine Dion, Bak Malaikat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.