Mantan Istri Jeff Bezos, Mackenzie Punya Ruangan Khusus Menulis

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jeff Bezos dan Mackenzie. REUTERS

    Jeff Bezos dan Mackenzie. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosok MacKenzie Bezos menjadi pusat perhatian sejak perceraian yang diumumkan sang suami, Jeff Bezos, lewat Twitter, Rabu, 9 Januari 2019. Pasangan yang menikah selama 25 tahun ini, memiliki 4 anak.

    Baca juga: Jeff Bezos-MacKenzie Cerai, Harta Gono Gini Rp 955 Triliun 

    MacKenzie sangat mendukung mantan suaminya saat mendirikan Amazon. "Bagi saya, mengawasi pasangan Anda, seseorang yang Anda cintai, memiliki petualangan - apa yang lebih baik dari itu?" Kata MacKenzie saat wawancara dengan CBS.

    Sejak awal Amazon, Bezos terus mengejar impian sastranya, menerbitkan dua novel, "The Testing of Luther Albright" pada 2005 dan "Traps" pada 2013. Ia memang bermimpi ingin menjadi penulis sejak kecil.  

    MacKenzie kecil adalah anak pemalu. Ia sering berdiam diri di kamar dengan menulis cerita yang terus dikembangkan. Karya pertama yang ditulisnya adalah novel berjudul The Book Worm sepanjang 142 halaman. Saat itu, ia baru berusia 6 tahun. Namun, sayangnya buku itu hilang akibat banjir. 

    Jeff Bezos dan Mackenzie. REUTERS

    Saat berkuliah di Universitas Princeton, MacKenzie belajar penulisan fiksi dengan penulis pemenang penghargaan Pulitzer, Toni Morrison. Menurut Morisson kepada Vogue, “MacKenzie adalah murid terbaik yang pernah ada di dalam kelas menulis kreatif. Dia benar-benar yang terbaik.”

    Novel pertama MacKenzie, The Testing of Luther Albright, meraih penghargaan di American Book Award pada 2005. Butuh waktu 10 tahun untuk diterbitkan.  Itu pun berkat penemuan tak sengaja sang suami, Jeff Bezos di kamar mandi hotel saat mereka berlibur.

    Biasanya MacKenzie menulis di apartemen untuk menghindari gangguan. Waktu menulis terbaik baginya adalah pagi hari sebelum anak-anak bangun. Kemudian, saat anak-anak bersekolah. Ia akan mengakhiri kegiatan menulis ketika tiba waktunya menjemput anak-anak di sekolah.

    Alasan yang membuatnya senang dengan buku adalah ruang pertemuan antara imajinasi penulis dan pengalaman pembaca masing-masing. “Membaca kembali buku yang sudah ditamatkan 10 tahun lalu akan menciptakan kisah atau pengalaman baru bagi saya. Sebab penafsiran kembali dapat dipengaruhi oleh preferensi kondisi, fokus, target yang saya hadapi di saat itu,” ungkapnya seperti dikutip dari laman Bussiness Insider.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.