Hari Ibu, Astrid Basjar Sedih Dulu Sering Bertengkar dengan Ibu

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Astrid Sartiasari. TEMPO/ Santirta M

    Astrid Sartiasari. TEMPO/ Santirta M

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi Astrid Sartiasari atau Astrid Basjar mengatakan kalau dia tidak pernah melakukan perayaan khusus Hari Ibu Nasional, yang jatuh pada 22 Desember setiap tahunnya. Hari Ibu seringkali dirayakan sebagai apresiasi terhadap ibu yang telah mendidik dan mengasuh sejak kecil.

    Menjelang Hari Ibu, Astrid Basjar sering merasa sedih karena dulu sering bertengkar dengan ibunya, Dra. Siti Kustiyah

    Artikel terkait:
    Hari Ibu, Yuk Rayakan dengan 7 Aktivitas Seru Bersama Keluarga
    Acha Septriasa Maknai Hari Ibu Semangat untuk Mendidik Anaknya

    “Pasti akan mengucapkan ‘Selamat Hari Ibu’, dan kadang suka agak sedih gitu dulu sering aku berantem terus sama ibuku. Pas jadi ibu, aku merasakan banget perasaannya,” tutur Astrid.

    ADVERTISEMENT

    Ia mengatakan mengerti perasaan ibunya saat mereka bertengkar karena memiliki perasaan yang sama setelah punya anak. Sedangkan dengan anaknya sendiri dia tidak pernah memiliki perayaan khusus untuk Hari Ibu.

    Anaknya, Alec Djuara Djoewarsa, biasanya hanya akan melakukan perayaan di sekolah dan akan membuat sesuatu dari sekolah. “Dia pernah menulisnya ‘I love youaja, baru bisa menulis waktu itu dengan ada gambar mama, papa, Alec,” jelas Astrid.

    Baca juga:
    Bingung Cari Hadiah buat Hari Ibu, Coba 4 Ide Sederhana Ini

    Tidak hanya mendapat ucapan dari anaknya, penyanyi yang dikenal dengan lagu “Jadikan Aku yang Kedua” ini juga pernah mendapatkan apresiasi dari suaminya, Arlan Jumarwan Djoewarsa, di Hari Ibu.

    “Sama suami pernah diberikan bunga, tapi itu spesial karena jarang banget. Suamiku itu tidak romantis dan akupun tidak romantis,” lanjut Astrid. 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Pernikahan dan Hajatan saat PPKM Level 4 dan 3, Ada Sanksi jika Melanggar

    Pemerintah mengatur resepsi pernikahan saat PPKM Level 4 dan lebih rendah. Aturan itu diikuti sanksi bagi pelaku usaha, perorangan, dan kepala daerah.