Mitos Menentukan Jenis Kelamin Anak Sejak Awal, Faktanya

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi suami istri konsultasi ke dokter. huffpost.com

    Ilustrasi suami istri konsultasi ke dokter. huffpost.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu mitos yang beredar tentang kehamilan, kita bisa menentukan jenis bayi perempuan atau laki-laki dari makanan yang dikonsumsi selama proses persiapan kehamilan. Namun faktanya, hal tersebut sampai saat ini masih menjadi perdebatan.

    Baca juga: Orgasme Wanita saat Berhubungan Intim Tentukan Jenis Kelamin Anak

    Dokter spesialis kebidangan dan kanudngan Boy Abidin mengatakan bahwa penentuan bayi laki-laki atau perempuan sebenarnya masih wewenang Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja, secara teori berdasarkan studi ilmiah hal tersebut bisa diusahakan.

    "Sebenarnya ini masih jadi perdebatan. Kalau secara teorinya, yang menentukan itu memang sperma dari suami. Sperma suami itu terdiri dari X dan Y. Kalau sperma X yang bertemu dengan sel telur maka jadinya anak perempuan. Kalau yang Y ketemu sel telur maka jadinya anak laki-laki," ujar Boy, di Jakarta, Selasa 18 Desember 2018.

    Menurut Boy, jika ingin mendapatkan anak perempuan, suami istri harus melakukan
    hubungan intim di luar masa subur. Sedangkan untuk anak laki-laki, dilakukan saat masa subur. "Setelah masa subur, Y-nya (laki-laki) sudah mati. Maka yang akan lebih dominan yang X (perempuan)," jelasnya.

    Selain itu, untuk mendapatkan anak laki-laki, kondisi area vagina sang istri harus memiliki tingkat asam (pH) yang tinggi. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan banyak makan daging. "Kalau mau anak laki, vagina harus asam. Kalau ingin suasana vagina lebih asam bisa disiram- siram dengan garam atau makan daging-dagingan supaya asamnya lebih tinggi," kata dokter Boy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.