Memprihatinkan, Pelaku Mom Shaming Kebanyakan Orang Terdekat

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Ibu (pixabay.com)

    Ilustrasi Ibu (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Psikolog dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., mengungkapkan bahwa mom shaming banyak dilakukan oleh orang terdekat. Istilah mom shaming merujuk pada merendahkan seorang ibu karena pilihan pengasuhannya berbeda dari yang dianut oleh si pengkritik.

    Perilaku mom shaming berupa sindiran, komentar, atau kritik yang bersifat negatif. Bila merujuk dari data di Amerika, tepatnya Universitas Michigan, sekitar 500 pengguna digital mengaku bahwa dirinya mengalami mom shaming, mulai dari topik cara pengasuhan anak hingga pemberian susu yang mempengaruhi ibu dalam memberikan keputusan terhadap anaknya.

    Baca juga:
    Cara Ibu Mengatasi Mom Shaming Supaya Tidak Bikin Stres
    Psikolog Ungkap Dampak Buruk Komentar Negatif pada Ibu Baru

    “Dari hasil data stastistik tersebut, yang tinggi pelaku mom shaming adalah orang tua sendiri. Kedua, suami. Ketiga, adalah mertua,” katanya.

    ADVERTISEMENT

    Saskhya menambahkan pelaku mom shaming merasa dirinya lebih baik untuk menunjukkan rasa perhatian, namun caranya kurang tepat.

    Saskhya menyarankan, ”Ketika seorang ibu merasa menjadi korban mom shaming, sebaiknya jangan lupa break, entah itu bernapas atau minum agar tidak terlalu memikirkan omongan orang. Intinya bagaimana kita tidak baper (bawa perasaan).”

    Artikel lain:
    Buat Yura Yunita, Ibu Seperti Sahabatnya Sendiri

    Ia mengatakan bahwa tidak mudah untuk tidak baper dalam urusan anak. Namun, kuncinya adalah berpikir positif.

    “Sebab, dampak dari mom shaming ini adalah rasa percaya diri menjadi drop. Ia akan bingung dalam memberikan keputusan. Bahkan, paling banyak dapat menjadi pencetus dari baby blues,” paparnya


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...