Minum Kopi pun Ada Aturannya buat Perempuan, Apa Saja Itu?

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi cupping atau menghirup aroma kopi. shutterstock.com

    Ilustrasi cupping atau menghirup aroma kopi. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Meminum kopi ternyata ada aturannya, terutama buat para wanita. Ada beberapa aturan yang sebaiknya diperhatikan untuk menghindari dampak negatif dari kandungan kafein di dalam kopi.

    Berikut tiga aturan meminum kopi yang wajib diketahui oleh kaum perempuan agar tidak mendatangkan dampak buruk.

    Baca juga:
    Aneka Minuman Kopi Teman Bersantai, Pahami Bedanya
    4 Makanan Pengusir Kantuk buat yang Tak Suka Kopi

    #Minum kopi di pagi hari
    Minum kopi sangat dianjurkan di pagi hari karena kafein yang terkandung di dalamnya dapat membantu meningkatkan kontraksi pada usus sehingga sistem pencernaan lebih lancar. Sebelum minum kopi, jangan lupa sarapan terlebih dulu untuk menjaga kesehatan lambung.

    #Hindari minum kopi saat menstruasi
    Mengonsumsi kopi saat menstruasi bisa berdampak negatif pada perut. Kandungan kafein justru akan menambah rasa sakit perut saat menstruasi. Tidak hanya itu, minum kopi saat menstruasi bahkan bisa membuat sakit kepala. Dibanding kopi, ada baiknya mengonsumsi air putih lebih banyak.

    Artikel lain:
    5 Tips Menyimpan Kopi Supaya Kualitasnya Tetap Terjaga
    Minum Kopi Dingin atau Panas, Mana yang Lebih Baik?

    #Konsumsi kopi kurang dari 200 miligram
    Buat perempuan, sebaiknya mengonsumsi kopi dalam batas wajar setiap hari. Mengonsumsi kopi kurang dari 200 miligram sangat dianjurkan. Pasalnya, sebuah studi mengungkapkan bahwa mereka yang mengonsumsi kopi lebih dari 200 miligram per hari memiliki risiko keguguran lebih tinggi daripada yang minum kurang dari 200 miligram.

    TEEN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.