Perawatan Kecantikan Orang Berduit Sekali Datang Habis Rp 50 Juta

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cut Meyriska sedang menajalani perawatan di sebuah klinik kecantikan. Instagram cutratumeyriska

    Cut Meyriska sedang menajalani perawatan di sebuah klinik kecantikan. Instagram cutratumeyriska

    TEMPO.CO, Jakarta - Kehidupan para sosialita identik dengan kemewahan, termasuk soal perawatan wajah untuk kecantikan paripurna. Umumnya, para sosialita ini akan melakukan berbagai macam perawatan di klinik kecantikan.

    "Sosialita kebanyakan kulitnya sudah cukup oke. Namun karena kebanyakan wanita yang sukses itu usianya di atas 40 tahun, maka problemnya lebih ke skin tightening, skin brightening dan ingin tekstur kulitnya lebih bagus," ujar dr. Kartini Ong.

    Artikel lain:
    Bedanya Perawatan Kecantikan Laser dan Chemical Peeling
    Cantik ala Wanita Korea, 5 Perawatan Kulit Ini Wajib Dilakukan

    Selain itu, Kartini pun membocorkan apa yang menjadi pertimbangan para sosialita dalam memilih perawatan kecantikan yang tepat.

    "Mereka ini tidak hanya mengikuti tren. Mereka cari yang hasilnya bagus dan downtime-nya lebih rendah agar bisa langsung bisa beraktivitas. Mereka juga suka dengan jenis perawatan wajah yang bisa mempertahankan wajah supaya awet muda," jelas  Kartini.

    Baca juga:
    Waspadai Efek Samping Perawatan Kecantikan Menggunakan Laser
    3 Teknik Perawatan Kecantikan Terkini

    Berapa biaya yang biasanya dihabiskan para sosialita untuk sekali kunjungan ke klinik kecantikan? Kartini menyebut tergantung dari jenis perawatan yang diambil.

    "Kalau soal harga, itu tergantung dari perawatan yang mereka pilih. Kalau perawatan dengan teknologi tinggi memang harganya pasti lebih mahal. Namun biasanya untuk sekali treatment di atas 50 juta rupiah," paparnya.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Maruf Amin di Debat Pilpres 2019 Soal Ancaman Stunting

    Dalam Debat Pilpres 2019 babak ketiga, Maruf Amin mengklaim angka prevalensi stunting turun 7 persen pada 2014 - 2019. Beginilah kondisi sebenarnya.