Rabu, 12 Desember 2018

Indikasi Gigi Bersih setelah Disikat, Bukan dari Banyaknya Busa

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sikat gigi teratur.

    Sikat gigi teratur.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sikat dan pasta gigi adalah kebutuhan penting saat mandi. Ikatan Dokter Indonesia merekomendasikan masyarakat menyikat gigi minimal dua kali, yakni sehabis makan dan sebelum tidur.

    Beragam pasta gigi beredar di pasar, termasuk pasta gigi dengan kandungan siwak. Busa yang dihasilkan pasta gigi dengan kandungan siwak acapkali tidak semelimpah pasta gigi lain, sementara masyarakat kerap menilai busa salah satu indikator kebersihan gigi dan gusi.

    Artikel terkait:
    Dokter Jelaskan soal Pentingnya Terapi Regeneratif Gigi
    Dokter Jelaskan Cara Pakai Pasta Gigi Sensitif yang Tepat

    Semakin melimpah busa odol, semakin yakin bahwa gigi dan gusi sudah bersih. Menurut drg. Bambang Nursasongko, Sp.KG(K) dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, pendapat itu tidak sepenuhnya benar.

    "Sama seperti mencuci, kalau busanya belum banyak, kita merasa belum bersih. Lalu kita tambah deterjen dengan harapan busa makin melimpah dan bersih. Apakah banyak busa itu menjamin baju jadi bersih?,” kata Bambang.

    “Belum tentu. Yang ada, limbah yang dihasilkan makin melimpah. Perhatikan iklan sabun cuci piring, cara mengecek kebersihan piring setelah dicuci yakni dengan menyapukan telunjuk ke piring itu. Kalau keset dan tidak licin, maka piring sudah bersih," tambah Bambang.

    Baca juga:
    Dokter Ingatkan Bahaya Veneer dan Kawat Gigi
    4 Campuran Kunyit untuk Memutihkan Gigi

    Begitu pula dengan menyikat gigi. Yang penting pasta gigi sudah diaplikasikan ke seluruh gigi menggunakan sikat.

    "Tuhan memberi kita lidah, kita bisa menyapukan lidah ke gigi setelah disikat. Kalau terasa keset sebenarnya gigi kita sudah bersih," urai Bambang.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.