Pernikahan Dini Sebabkan Gangguan Mental, Ini Kata Dokter

ilustrasi pernikahan muda (pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Praktik pernikahan dini masih cukup banyak di Indonesia. Padahal, perkawinan pada usia anak, yakni di bawah usia 18 tahun, merupakan masalah yang sangat serius karena mengandung berbagai risiko dari berbagai aspek, antara lain kesehatan, psikologi, dan sosiologi.

Badan kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sendiri menyebutkan usia perkawinan yang wajar yaitu 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Mereka yang melakukan perkawinan di bawah usia tersebut bisa dikategorikan tidak wajar karena usia belum matang, organ intim dan reproduksi sedang berkembang, serta mental yang masih belum stabil.

Artikel terkait:
Bahaya Pernikahan Dini, Gangguan Mental dan Masalah Fisik
5 Masalah yang Muncul akibat Pernikahan Dini, Fisik dan Mental

"Perlu menunda hubungan seksual hingga umur, biologis, dan mental menjadi dewasa serta finansial yang memadai karena perkawinan usia anak tidak memberikan dampak positif pada siapa pun dan hanya menambah beban sosial dan ekonomi bagi keluarga dan bagi bangsa," ungkap Vice President of Life Operation Division Sequis, Eko Sumurat.

Jika perkawinan usia dini tidak segera diatasi, dampaknya akan semakin kompleks, yaitu dampak kemanusiaan, kesehatan, ekonomi, dan masih banyak lagi.

"Anak-anak Indonesia akan menjadi generasi penerus bangsa. Jika mereka tumbuh dengan kesehatan yang tidak layak, cacat genetik, emosi yang tidak stabil serta pendidikan yang tidak berkualitas maka beban yang kita tanggung di masa depan akan lebih tinggi,” tambah Eko.

Kecemasan yang diungkap Eko Sumurat beralasan. Menurut dokter spesialis jiwa OMNI Hospitals Pulomas, Jakarta, dr. Jimmi MP Aritonang, Sp. KJ, secara psikologis perkawinan usia anak bisa menyebabkan trauma dan krisis percaya diri serta emosi yang tidak berkembang dengan matang.

"Kepribadiannya cenderung tertutup, mudah marah, putus asa, dan mengasihani diri sendiri. Hal ini karena si anak belum siap untuk menjadi istri, pasangan seksual, dan menjadi ibu atau orang tua,” ujar dokter Jimmi.

Ilustrasi nikah muda. shutterstock.com

Selain itu, perkawinan usia anak juga menyebabkan gangguan kognitif, seperti tidak berani mengambil keputusan, kesulitan memecahkan masalah, dan terganggunya memori.

"Dominasi pasangan rentan menyebabkan terjadinya ketidakadilan, kekerasan rumah tangga, serta terjadinya perceraian. Di sisi lain, tuntutan bersosialisasi dalam masyarakat atau menghadapi pandangan masyarakat akan membuat si anak merasa tertekan dan cenderung menutup diri dari aktivitas sosial. Hal ini dapat menyebabkan produktivitas menurun dan sedikit peluang untuk melanjutkan pendidikan," papar Jimmi.

Sementara dari segi biologis, perkawinan usia anak, khususnya pada remaja perempuan yang hamil dan melahirkan, rawan mengalami gangguan mental pascamelahirkan, seperti depresi setelah melahirkan (baby blues syndrome) yang terjadi karena perubahan hormon, kelelahan, tekanan mental, dan merasa kurangnya bantuan ketika melahirkan.

Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Health Claim Senior Manager Sequis dr. Yosef Fransiscus. Ia mengatakan bahwa anak secara fisik belum matang untuk melakukan hubungan seksual, mengalami hamil, dan melahirkan.

"Perkawinan usia anak, rentan terjadi dominasi oleh pasangan yang lebih tua sehingga kemungkinan pasangan yang lebih muda tidak berani untuk meminta hubungan seks dengan alat pengendali kehamilan agar tidak hamil di usia muda. Padahal hubungan seksual yang dilakukan di usia dini, secara terpaksa, dan tanpa pengetahuan dasar kesehatan reproduksi akan memicu kemungkinan kerusakan organ intim. Efek lainnya adalah hilangnya kemampuan orgasme dan kemampuan ovulasi/hamil di jangka panjang," ujar Yosef.

Gangguan mental dan kesehatan ibu hamil ternyata berdampak juga pada anak yang dilahirkan. “Pada anak yang dilahirkan, rawan terjadi gangguan mental seperti down syndrome serta berisiko mendapatkan berbagai masalah kesehatan, emosional, dan sosial jika dibandingkan mereka yang lahir dari pernikahan usia matang dan bahagia," kata Jimmi.

Baca juga:
Fenomena Menikah Muda, Ini Pemicunya Menurut Psikolog
Bahaya Kesehatan Wanita Kawin Muda, Pendarahan sampai Kematian

Sedangkan gangguan pada kesehatan, misalnya terjadi cacat lahir. "Akibat tulang belakang bayi yang gagal berkembang, terbentuk celah atau defek pada tulang belakang dan saraf tulang belakang (spina bifida)," tambah Yosef.

Kesulitan anak perempuan dari pasangan perkawinan usia anak tidak hanya dirasakan pada saat hamil dan melahirkan, tetapi juga saat membesarkan anak. Akibat keterbatasan finansial dan mobilitas, serta keterbatasan berpendapat seringkali membuat anak perempuan tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan mengasuh bayinya termasuk juga ketidaksiapan emosional orang tua karena memiliki anak. Akibatnya, dapat terjadi risiko penelantaran bayi atau pengasuhan yang tidak tepat.

Jika ini terjadi, maka pada perkembangan selanjutnya anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan, kesulitan belajar, gangguan perilaku, dan cenderung menjadi orang tua pula di usia dini.

AURA






Mila Kunis Ungkap Rahasia Pernikahan yang Bahagia dengan Ashton Kutcher

1 hari lalu

Mila Kunis Ungkap Rahasia Pernikahan yang Bahagia dengan Ashton Kutcher

Mila Kunis dan Ashton Kutcher menikah selama delapan tahun, dikaruniai dua anak.


Profil Suami Catherine Wilson: Idham Mase Anggota DPRD Sidrap Kekayaannya Rp 1,6 M, Punya Utang Rp 735 Juta

3 hari lalu

Profil Suami Catherine Wilson: Idham Mase Anggota DPRD Sidrap Kekayaannya Rp 1,6 M, Punya Utang Rp 735 Juta

Idham Mase, suami Catherine Wilson merupakan anggota DPRD Sidenreng Rappang tercatat di LHKPN punya kekayaan Rp 1,6 miliar, dengan utang Rp 735 juta.


Michelle Obama Rayakan 30 Tahun Pernikahan Ini Petualangan untuk Seumur Hidup

3 hari lalu

Michelle Obama Rayakan 30 Tahun Pernikahan Ini Petualangan untuk Seumur Hidup

Michelle Obama dan Barack Obama merayakan ulang tahun pernikahan 30 tahun dengan pesan yang menyentuh hati


Stres Bikin Pasangan Berpikir Negatif Satu Sama Lain Menurut Studi

7 hari lalu

Stres Bikin Pasangan Berpikir Negatif Satu Sama Lain Menurut Studi

Penelitian ini menunjukkan bahwa stres itu sendiri mungkin memengaruhi cara Anda menafsirkan tindakan pasangan Anda


Syarat Nikah di KUA Terbaru 2022, Cara Daftar, dan Biayanya

7 hari lalu

Syarat Nikah di KUA Terbaru 2022, Cara Daftar, dan Biayanya

Berikut syarat nikah di KUA 2022 terbaru beserta biaya dan cara daftarnya dengan dokumen yang harus dibawa mempelai pria dan wanita


Sandiaga Uno Rekomendasikan Destinasi Pernikahan Menarik Selain Bali

7 hari lalu

Sandiaga Uno Rekomendasikan Destinasi Pernikahan Menarik Selain Bali

Sandiaga Uno mengatakan industri pernikahan mampu menjadi lokomotif dalam pemulihan ekonomi tidak hanya di Indonesia namun secara global.


Wakili Lesti Kejora Terima Piala Gorgeous Mom, Irfan Hakim: Sabar, Ini untuk Kamu

7 hari lalu

Wakili Lesti Kejora Terima Piala Gorgeous Mom, Irfan Hakim: Sabar, Ini untuk Kamu

Irfan Hakim berusaha menguatkan Lesti Kejora, sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya itu saat menerima piala.


Pernah Goyang, Shandy Aulia dan Suami Bahagia Rayakan 11 Tahun Pernikahan

8 hari lalu

Pernah Goyang, Shandy Aulia dan Suami Bahagia Rayakan 11 Tahun Pernikahan

Menurut Shandy Aulia, banyak orang menghabiskan waktu untuk merancang upacara dan resepsi pernikahan daripada perkawinan itu sendiri.


9 Kesalahan Perawatan Kulit yang Sering Dilakukan Calon Pengantin

15 hari lalu

9 Kesalahan Perawatan Kulit yang Sering Dilakukan Calon Pengantin

Calon pengantin sering bereksperimen dengan produk atau perawatan kulit baru agar tampil terbaik untuk hari besar.


Mobilitas Melonggar, Pelaku Kreatif Garap Lagi Konsep Yogyakarta Destinasi Wedding

17 hari lalu

Mobilitas Melonggar, Pelaku Kreatif Garap Lagi Konsep Yogyakarta Destinasi Wedding

Para pelaku industri kreatif wedding menjadi satu kelompok paling terdampak pandemi karena hampir seluruh jadwal pernikahan di Yogyakarta dibatalkan.