Cara Menyesuaikan Mainan dengan Usia dan Kebutuhan Bayi

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mainan anak. shutterstock.com

    Ilustrasi mainan anak. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Mainan memiliki peran penting untuk meningkatkan sensorik dan motorik bayi. Namun, orang tua harus tahu mainan yang sesuai dengan kebutuhan di setiap tahap atau fase pertumbuhan bayi. Mainan yang sesuai dapat membantu bayi belajar mengenai berbagai hal, seperti bentuk, warna, tekstur, dan lain-lain.

    Baca juga: Sebab Anak Cepat Bosan dengan Mainan, Ini Kata Psikolog

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Mainan Indonesia, Eko Wibowo Utomo, mengatakan masih banyak orang tua di Indonesia yang tidak merasa kalau mainan memiliki peran penting untuk perkembangan bayi. Padahal, bila diberi edukasi yang benar, akan semakin banyak orang tua yang mengetahui mainan yang sesuai untuk membantu pertumbuhan bayi. 

    “Jadi untuk bayi contoh, dia perlu belajar sensorik-motorik. Mulai dari bagaimana memperbedakan permukaan halus, permukaan kasar, itu sudah dimulai dari usia 0 bulan,” jelas Eko Wibowo Utomo, di Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta Barat, Rabu 21 November 2018.

    Setiap tahap pertumbuhan bayi akan ada mainan khusus yang bisa membantu melatih perkembangan sensorik-motorik bayi. Bagaimana cara kita mengetahui mainan apa yang sedang dibutuhkan bayi? “Mainan disesuaikan dengan perkembangan otak. Anak mau memutar barang, lalu melempar, menggenggam keras dan ringan suatu mainan itu merangsang sensorik dan motorik bayi,” lanjut Eko.

    Contoh lain adalah pada saat gigi bayi baru tumbuh, bayi akan merasa gatal dan ingin menggigit semua mainan. Orang tua harus mencari mainan yang cocok untuk situasi tersebut. Karena itu di tempat mainan bayi sering terlihat tulisan usia yang sesuai. Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada usianya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.