Jangan Ratapi Perceraian, Ayo Bangkit dengan Kiat Berikut

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perceraian. Shutterstock

    Ilustrasi perceraian. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap pasangan bercerai punya kisah berbeda. Kesulitan yang dihadapi menjelang dan setelah perceraian juga tak sama.

    Lebih berat buat mereka yang bercerai setelah bertahun-tahun menikah dan punya anak dibandingkan pasangan yang baru 1-2 tahun menikah tanpa anak. Untuk memulihkan diri, mungkin ada baiknya Anda melakukan hal ini.

    Artikel lain:
    4 Pekerjaan yang Berisiko Alami Perceraian
    Perceraian Bikin Pemasukan Hilang, Ini yang Harus Dilakukan Istri

    #Memberi waktu untuk berduka
    Pertama, berikan diri sendiri ruang dan waktu. Terapis pernikahan dan keluarga dari Santa Barbara, Amerika Serikat, Jennifer Freed, mengibaratkan perceraian hampir sama dengan kematian.

    “Ada rutinitas yang hilang, kebersamaan yang hilang, sehingga butuh waktu beradaptasi lagi. Seperti Anda butuh waktu untuk menjalin sebuah hubungan, Anda juga butuh waktu berduka, meratapi kehilangan hubungan. Lepaskan kesedihan itu bertahap sedikit demi sedikit. Namun, Anda juga harus tahu batas waktu harus berhenti (berduka),” kata Freed.

    Menurut Vikki Stark, terapis keluarga dari Kanada, umumnya seseorang butuh waktu 2 tahun untuk pulih dari trauma perceraian.

    “Satu tahun pertama adalah masa seseorang membenahi perasaannya. Berjuang mencari pertolongan atau menolong dirinya sendiri, lewat berbagai cara,” ungkap Stark, yang juga menulis tiga buku tentang perceraian termasuk Runaway Husbands: The Abandoned Wife's Guide to Recovery and Renewal.

    Baca juga:
    Hindari Perceraian dengan 5 Langkah Berikut
    Angka Perceraian Naik, Ini Pendapat Psikolog

    #Membuat catatan harian
    Curahkan rasa sedih, pergolakan batin, dan emosi lewat tulisan. Anda bisa menulis apa saja dan dalam bentuk apa saja. Salah satunya catatan harian. Menurut Sharon Gilchrest O'Neil, terapis pernikahan dan keluarga dari New York, Amerika Serikat, menulis atau membuat catatan harian mampu menolong orang mengatasi stres atau trauma. Ini salah satu terapi yang diterapkan kepada kliennya yang berusaha memulihkan diri pascaperceraian. 

    “Mereka yang menulis pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan dalam pernikahan umumnya menunjukkan adanya perbaikan suasana hati. Selain menulis pengalaman yang lalu, Anda bisa mencatat hari demi hari kegiatan selama proses pemulihan. Lihat betapa buruknya pernikahan dulu, dan lihat bagaimana kini Anda perlahan-lahan bangkit. Ini bisa menginspirasi, memotivasi diri sendiri,” ujar O’Neil. 

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Menang di Basis Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah dan Timur

    Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang nota bene lumbung Nahdlatul Ulama, menjadi tempat Joko Widodo dan Ma'ruf Amin memanen suara dalam Pilpres 2019.