Bahaya Pernikahan Dini, Gangguan Mental dan Masalah Fisik

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan menikah/pernikahan. Shutterstock

    Ilustrasi pasangan menikah/pernikahan. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter Spesialis Jiwa di OMNI Hospitals Pulomas, Jakarta, Jimmi MP Aritonang, mengatakan secara psikologi perkawinan usia dini bisa menyebabkan trauma dan krisis percaya diri. Selain itu, anak juga terancam perkembangan emosi yang tidak stabil.

    “Kepribadiannya cenderung tertutup, mudah marah, putus asa, dan mengasihani diri sendiri.  Hal ini karena si anak belum siap untuk menjadi istri, pasangan seksual, dan menjadi ibu atau orang tua,” ujar Jimmi.

    Artikel lain:
    5 Masalah yang Muncul akibat Pernikahan Dini, Fisik dan Mental
    Bahaya Kesehatan Wanita Kawin Muda, Pendarahan sampai Kematian

    Dia menambahkan, pernikahan dini juga menyebabkan gangguan kognitif, seperti tidak berani mengambil keputusan, kesulitan memecahkan masalah, dan terganggunya memori.

    ADVERTISEMENT

     “Dominasi pasangan rentan menyebabkan terjadinya ketidakadilan, kekerasan rumah tangga, serta terjadi perceraian,” ujar Jimmi.

    Selain itu, remaja yang hamil dan melahirkan rawan mengalami gangguan mental pascamelahirkan, seperti depresi setelah melahirkan (baby blue syndrome) yang terjadi karena perubahan hormon, kelelahan, tekanan mental, dan merasa kurangnya bantuan ketika melahirkan.

    Health Claim Senior Manager Sequis, dr. Yosef Fransiscus, mengatakan bahwa anak secara fisik belum matang untuk melakukan hubungan seksual, hamil, dan melahirkan. 

    Baca juga:
    5 Mitos Keliru Seputar Pernikahan
    Beda Usia Satu Tahun Paling Aman dalam Pernikahan

    “Seksual yang dilakukan di usia dini secara terpaksa dan tanpa pengetahuan dasar kesehatan reproduksi akan memicu kemungkinan kerusakan organ intim. Efek lainnya adalah hilangnya kemampuan orgasme dan kemampuan ovulasi atau hamil di jangka panjang,“ ujar Yosef.

    Dia menambahkan kesulitan anak perempuan dari pasangan perkawinan usia anak tidak hanya dirasakan pada saat hamil dan melahirkan tetapi juga saat membesarkan anak. Seringkali anak perempuan yang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan mengasuh bayi menelantarkan anaknya atau memberi pengasuhan yang tidak tepat.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.