Rabu, 12 Desember 2018

Kata Peneliti Kopi Baik buat Otak, Cek Sebabnya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi kopi (pixabay.com)

    ilustrasi kopi (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Buat penikmat kopi, ada kabar baik, yakni penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa kopi dapat melindungi otak. Para peneliti Kanada yang berasal dari Krembil Brain Institute di Toronto menguji Starbucks VIA instant light roast, dark roast, dan dark roast tanpa kafein untuk senyawa yang dikenal sebagai fenilindan.

    Itu karena mereka berpikir senyawa yang merupakan hasil dari proses pemanggangan adalah kunci untuk kesehatan otak, tidak harus berdasarkan jumlah kafein, seperti laporan USA Today.

    Artikel lain:
    4 Makanan Pengusir Kantuk buat yang Tak Suka Kopi
    6 Manfaat Kopi untuk Kecantikan  

    Fenilindan mencegah dua fragmen protein yang umum pada Alzheimer dan Parkinson, menurut penelitian yang dipublikasikan di Frontiers di Neuroscience pada Oktober 2018. Ini pertama kali ada orang yang menyelidiki bagaimana fenilindan berinteraksi dengan protein yang bertanggung jawab terhadap Alzheimer dan Parkinson, ujar peneliti yang terlibat dalam penelitian, Ross Mancini, dalam penyataannya.

    Kopi dark roast menghasilkan fenilindan dengan jumlah tertinggi dan membuatnya menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan otak.

    Baca juga:
    Yuk, Ngopi Asyik di Fakultas Kopi  
    Waspadai Efek Negatif Kecanduan Kopi

    Kendati demikian, seberapa menguntungkan senyawa tersebut masih belum diketahui, tutur Mancini. Sebelum Anda mengubah kebiasaan minum, penelitian kopi harus direspons agak skeptis. Howard Bauchner, pemimpin redaksi jurnal medis JAMA (The Journal of the American Medical Association) dan The JAMA Network, mengatakan kepada USA Today, sebagian besar penelitian tentang kopi itu adalah penelitian asosiasi, yang artinya mereka tidak menunjukkan bahwa kopi adalah alasan sebenarnya untuk temuan tersebut.

    Ini menarik, tetapi apakah kami menyarankan bahwa kopi adalah obat? Tentu saja tidak, ujar direktur bersama Krembil Brain Institute, peneliti Donald Weaver, dalam sebuah pernyataan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.