Penelitian soal Rokok Semakin Aktif demi Turunkan Jumlah Perokok

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi rokok elektrik. Christopher Furlong/Getty Images

    Ilustrasi rokok elektrik. Christopher Furlong/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Tingginya angka perokok mendorong para peneliti dari berbagai negara melakukan kajian untuk menemukan cara mengatasi masalah ini. Di Amerika Serikat, sebuah penelitian yang dipimpin oleh pakar onkologi David Theodore Levy dari Georgetown University Medical melakukan kajian lebih lanjut terhadap masalah rokok dengan mempertimbangkan strategi peralihan perokok ke penggunaan produk tembakau alternatif, dalam hal ini rokok elektrik, untuk mempercepat proses pengendalian tembakau di Negeri Paman Sam.

    Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Tobacco Control dengan menggunakan skenario optimistis dan pesimistis serta membuat model potensi dampak kesehatan masyarakat bila rokok digantikan dengan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik. Hasilnya, penelitian menemukan bahwa diperkirakan sebanyak 6,6 juta orang di Amerika Serikat dapat terhindar dari kematian dini jika perokok beralih ke rokok elektrik.

    Artikel terkait:
    Bahaya Radiasi Ternyata Tak Separah Merokok dan Obesitas
    Sulit Berhenti Merokok, Coba 7 Cara Ini

    "Diperlukan sejumlah upaya komprehensif agar proses pengendalian tembakau dapat berhasil. Peralihan dengan menggunakan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik bisa menjadi salah satu upaya mengingat tingkat kandungan risiko kesehatan yang dimiliki lebih rendah dibandingkan dengan rokok," jelasnya dalam jurnal tersebut.

    ADVERTISEMENT

    Sementara itu, peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik, Amaliya, mengatakan bahwa meskipun memiliki perbedaan karakteristik masyarakat, pada dasarnya Indonesia juga memiliki permasalahan yang sama dengan Amerika dalam hal pengendalian konsumsi rokok.

    Baca juga:
    Dokter: Rokok Tak Cuma Mengganggu Paru tapi Juga Lambung
    Berhenti Merokok Tidak Susah Asal Tahu Kiatnya

    "Perlu suatu langkah alternatif untuk mengatasi hal ini. Kami di YPKP juga telah melakukan penelitian lebih lanjut mengenai produk tembakau alternatif, baik melalui pendekatan kesehatan dengan memeriksa sel rongga mulut pada tiga kelompok utama, yakni perokok, pengguna rokok elektrik, dan non perokok, maupun pendekatan sosial," paparnya.

    Dari proses penelitian tersebut, YPKP melakukan observasi langsung dengan para perokok. Hasilnya, ditemukan bahwa banyak perokok yang merasa kesulitan untuk berhenti. Salah satunya karena alasan psikologi, di mana perokok kehilangan sensasi dari kebiasaan hand to mouth.

    "Kebiasaan ini juga dapat dirasakan dengan penggunaan produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan, bukan dibakar, dan rokok elektrik. Kemudian, konsep pengurangan risiko yang diterapkan pada produk tembakau alternatif menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah hingga 95 persen daripada rokok," tutur Amaliya.

    Dia melanjutkan, merujuk pada berbagai penelitian dan literatur atas potensi produk tembakau alternatif, produk tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi perokok yang berkeinginan untuk berhenti secara bertahap.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.