Pengaruh Pola Asuh terhadap Perilaku Negatif Anak saat Dewasa

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak marah atau berteriak. shutterstock.com

    Ilustrasi anak marah atau berteriak. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tidak bisa dipungkiri, beberapa gangguan perilaku dan psikologis berkaitan erat dengan pola asuh yang diterima seseorang semasa kecil. Contohnya, ada orang tua yang menerapkan disiplin sangat tinggi, fokus dalam mendorong anak meraih prestasi dan pencapaian tinggi di segala bidang.

    Mereka menuntut kesempurnaan, tidak bisa menerima kegagalan atau kekalahan anak, menjadi kritikus paling keras, dan senang membanding-bandingkan anak. Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Kepribadian di Singapura menyebut anak-anak yang dibesarkan dengan disiplin kaku cenderung tumbuh menjadi anak yang keras terhadap diri sendiri.

    Baca juga:
    4 Manfaat Orang Tua Memeluk Anak
    Belajar dari Anak

    Anak tidak mudah puas dan memasang target yang sangat tinggi dalam hidup. Hal ini memicu munculnya rasa cemas berlebihan, stres, dan depresi di usia muda.

    ADVERTISEMENT

    “Ketika orang tua terlalu ikut campur dan menuntut anak, ini sinyal bahwa apa yang anak-anak lakukan tidak pernah cukup baik. Hasilnya, anak selalu diliputi rasa khawatir bahwa mereka telah melakukan kesalahan,” jelas Ryan Hong, pakar psikologi kepribadian dari Universitas Nasional Singapura.

    “Mereka akan menyalahkan diri sendiri karena tidak menjadi sempurna. Seiring waktu, perilaku yang dikenal dengan perfeksionisme akan merugikan anak karena meningkatkan risiko munculnya depresi, kecemasan, dan keinginan bunuh diri dalam kasus yang serius,” tambahnya.

    Ada tipe orang tua yang kerap menumpahkan kekesalan pada anak. Jangankan mengekspresikan cinta dan sayang, mereka lebih sering meluapkan kekesalan pada anak ketika menghadapi masalah yang bahkan tidak berkaitan dengan anak. 

    Membebani anak dengan perasaan bersalah dan selalu menumpahkan kekesalan pada anak membuat buah hati berpikir merekalah sumber masalah.

    Mereka akan berkesimpulan bahwa dunia akan lebih baik tanpa kehadiran mereka. Anak-anak seperti ini, yang tidak pernah merasa dibutuhkan dan dicintai, mempunyai kecenderungan mencari pelarian ke hal-hal negative, seperti bergaul dengan lingkungan yang buruk, kecanduan rokok, alkohol, hingga obat-obatan terlarang.

    Artikel lain:
    Alasan Orang Tua Wajib Menanamkan Kebiasaan Baik pada Anak
    Kiat Melatih Anak Mengatur Keuangan

    Nigel Barber Ph.D, ahli biopsikologi dari Universitas City of New York, AS, menyimpulkan, “Masalah narkoba di kalangan remaja tidak terjadi dalam sekejap. Hal itu berkembang di tengah hubungan anak dan orang tua yang lemah. Oleh karena itu, menjaga kelekatan hubungan orang tua dan anak sangat berpengaruh dalam mencegah penyalahgunaan narkoba pada anak-anak. Hal ini harus dipahami dan dianggap penting oleh para orang tua.”

    AURA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.