Jangan Remehkan Baby Blues, Ibu Bisa Bunuh Diri

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi baby blues. shutterstock.com

    Ilustrasi baby blues. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kondisi ibu setelah melahirkan harus dipantau dengan seksama. Jangan sampai ibu merasa sedih sampai tertekan atau mengalami baby blues syndrome.

    Baca:
    Cerita Mytha Lestari Mengalami Baby Blues Usai Melahirkan

    Pengalaman sindrom baby blues yang cukup parah pernah dialami oleh Adianti Reskoprodjo setelah melahirkan anak kedua sekitar 3 tahun lalu. Masalah yang dia hadapi di antaranya baru pindah ke rumah baru sehingga merasa asing dan sendiri, belum keluarnya air susu ibu atau ASI, hingga perasaan belum siap dengan kehadiran anak kedua.

    "Setiap malam saya sulit tidur karena banyak hal dipikirkan. Pagi hari saya tidak berhenti menangis, pernah sampai 3 hari," kata Adianti. Semua masalah seperti berputar-putar di kepalanya. Adianti bahkan hampir menenggak alkohol yang dia pegang saat membersihkan pusar bayi setelah memandikannya.

    ADVERTISEMENT

    "Aku sudah hampir tiga kali mencoba bunuh diri. Mau minum obat tidur sebanyak-banyaknya supaya enggak bangun lagi. Saat itu benar-benar depresi dan seperti enggak berharga, rasanya ingin mati saja," ucap Adianti.

    Perlahan dia merasa ada yang tidak beres. Menyampaika persoalan dan perasaan yang dialami kepada suami, sayangnya semua itu tidak dipahami dengan baik. Suami justru berpikir Adianti semestinya bersyukur karena sudah memiliki segalanya, keluarga yang lengkap dengan suami dan anak, rumah baru, anak yang sempurna, kasih sayang. Tak ada lagi yang perlu dicemaskan.

    Tanggapan suami tak membuatnya bebas dari depresi. Adianti lantas pergi ke rumah orang tuanya lalu berkonsultasi ke psikolog. Karena masalahnya lumayan berat, Adianti disarankan ke pskiater agar diberi obat untuk mengatasi kondisinya.

    Baca juga: Baby Blues Syndrome Membahayakan Ibu dan Bayi

    "Saat ke pskiater ditawari minum obat supaya cepat sembuh tapi konsekuensinya tidak bisa menyusui. Saya menolak," ucapnya. Musababnya, meski mengalami baby blues, Adianti tetap bisa menjadi ibu yang baik dalam merawat anak dan ketidakberesan itu hanya terjadi pada dirinya sendiri.

    Pskiater itu lantas menyarankan Adianti melakukan kegiatan yang paling dia suka. Sebagai seorang trainer crossfit, tentu saja dia suka olahraga. Tapi dia kesulitan karena sedang mengasuh dua anak. Tak menyerah, Adianti mencari tempat olahraga bersama bayi, tapi yang ada hanya yoga. Menurut dia, itu kurang menantang karena terbiasa melakukan olahraga crossfit.

    "Aku jadi sibuk mencari jenis olahraga bersama bayi dan rutin melakukannya. Iseng masukkan ke Instagram, ternyata banyak ibu yang juga butuh informasi tentang olahraga setelah melahirkan," ucap Adianti. Dia kian bersemangat dan akhirnya lupa dengan depresi yang dialami.

    Dengan berolahraga, Adianti merasakan benang kusut yang ada di dalam pikirannya mulai terurai. Dia merasa kembali berharga setelah sekitar 6 bulan memiliki perasaan yang naik turun. Kini Adianti telah mengantongi sertifikat sebagai prenatal dan postnatal trainer dan mendirikan Fit Mum & Bub.

    Artikel terkait: Tugas Suami jika Istri Terkena Baby Blues Syndrome


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Resepsi Pernikahan di PPKM Level 4 dan 3

    Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, atau PPKM, dengan skema level juga mengatur soal resepsi pernikahan. Simak aturannya.