Rabu, 19 Desember 2018

Penyakit Kronis Selena Gomez Pengaruhi Kesehatan Mentalnya

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Selena Gomez menghadiri acara WE Day di Los Angeles, California, 27 April 2017. WE Day juga menjadi ajang penggalangan dana bagi kegiatan sosial oleh WE Charity. REUTERS/Phil McCarten

    Selena Gomez menghadiri acara WE Day di Los Angeles, California, 27 April 2017. WE Day juga menjadi ajang penggalangan dana bagi kegiatan sosial oleh WE Charity. REUTERS/Phil McCarten

    TEMPO.CO, Jakarta - Selena Gomez menjalani perawatan di rumah sakit karena gangguan mental yang dialaminya. Penyanyi 26 tahun ini mengalami serangan panik, stres dan gangguan emosional setelah menerima laporan jumlah sel darah putihnya rendah. Hal tersebut merupakan efek samping dari transplantasi ginjal yang dilakukan pertengahan tahun lalu.

    Baca juga: Kenali Jenis Gangguan Mental seperti yang Dialami Selena Gomez

    Jennifer Behnke, Direktur Klinis di New Perspectives, sebuah fasilitas Delphi Behavioral Health Group di Boynton Beach, Florida, Amerika Serikat mengatakan bahwa reaksi stres karena penyakit kronis tidak jarang terjadi. "Menjadi sakit terus-menerus adalah stres, luar biasa, dan menekan. Sering kali, individu dengan penyakit kronis tidak dapat berfungsi pada tingkat yang pernah mereka nikmati,” ujarnya, seperti dikutip dari laman Busle

    Lebih lanjut, Behnke mencatat, "Konsekuensi emosional negatif akibat penyakit kronis dapat semakin diperburuk dengan menjadi sorotan. Selebriti diharapkan tampil sempurna setiap saat, ini tidak hanya menguras energinya, tapi tidak realistis. “

    Menurut Canadian Mental Health Association (CMHA), hubungan antara kesehatan fisik dan mental bisa sangat mendalam. Sementara mereka yang hidup dengan kondisi kesehatan mental beresiko untuk mengembangkan masalah fisik kronis, begitu juga sebaliknya mereka yang mengalami kondisi medis krnosi juga berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan, untuk orang yang hidup dengan penyakit kronis, kemungkinan depresi dan kecemasan dua kali lipat dari populasi umum.

    CMHA juga menyatakan baik pikiran dan tubuh dipengaruhi oleh perubahan fisiologis yang terkait dengan kondisi kesehatan kronis. Tetapi juga, rasa frustrasi yang dapat datang seiring dengan penyakit kronis dalam jangka panjang bisa sangat kuat. Tekanan ekonomi, kurangnya dukungan sosial yang memadai, dan hasil pengobatan yang beragam atau buruk terkadang dapat sangat mengganggu bagi orang yang hidup dengan kondisi kronis.

    Tampilan Selena Gomez dengan gaya rambut terbarunya. Instagram

    Sementara menurut National Institute of Mental Health (NIMH), sangat normal untuk merasa tertekan atau cemas setelah kondisi kesehatan menurun. Dan mengelola semua jenis kondisi kesehatan kronis dapat menjadi sumber utama stres yang dialami. Ini bisa menguras mental dan menyakitkan secara emosional untuk mengatasi gejalanya. "Melihat waktu berlalu dan orang lain bersenang-senang dapat membuat orang merasa terisolasi dan sendirian," kata Behnke. "Emosi semacam itu semakin memperburuk mental seseorang dan tekad untuk melawan penyakit."

    NIMH lebih lanjut mencatat bahwa kecemasan dan depresi dapat hilang jika kondisi fisik yang kronis membaik, tetapi bahkan jika tidak, kondisi kesehatan mental ini masih dapat diobati. Perawatan dapat mencakup terapi perilaku kognitif, yang dapat membantu mengubah pikiran negatif atau pola berpikir. Jenis terapi lain - seperti kelompok pendukung - juga dapat membantu.

    Selena Gomez akan menjalani Dialectical Behavioral Therapy (DBT) saat dia pulih. National Alliance on Mental Illness (NAMI) DBT membantu pasien menerima "pikiran yang tidak nyaman, emosi, dan perilaku daripada berjuang dengan mereka,". Behnke mengatakan DBT dapat membantu mengobati masalah kesehatan mental yang berasal dari pengelolaan penyakit kronis karena "ia menyediakan keterampilan praktis yang dapat diterapkan untuk tetap bertahan."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Pemilih Tetap Tahap Kedua untuk Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum atau KPU akhirnya mengumumkan perbaikan Daftar Pemilih Tetap tahap kedua pada 15 Desember 2018 untuk Pilpres 2019.