Selasa, 23 Oktober 2018

Kasus Ratna Sarumpaet, Psikolog: Tetap Ada yang Mesti Diapresiasi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis Ratna Sarumpaet saat tiba di Polda Metro Jaya Jakarta, Kamis malam, 4 Oktober 2018. Ratna ditangkap sebelum terbang ke Cile untuk menghadiri konferensi The 11th Women Playwrights International 2018. TEMPO/Amston Probel

    Aktivis Ratna Sarumpaet saat tiba di Polda Metro Jaya Jakarta, Kamis malam, 4 Oktober 2018. Ratna ditangkap sebelum terbang ke Cile untuk menghadiri konferensi The 11th Women Playwrights International 2018. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus informasi palsu atau hoax yang melibatkan Ratna Sarumpaet berbuntut panjang. Saat ini Ratna Sarumpaet sedang menjalani proses hukum karena diduga membuat kabar bohong yang meresahkan masyarakat. Bahkan sebuah organisasi bernama Lembaga Pemilih Indonesia memberi gelar "Ibu Hoax Indonesia" kepada Ratna Sarumpaet yang kini berstatus tersangka kasus penyebaran hoax.

    Baca: Menelisik Motif Kebohongan Ratna Sarumpaet

    Psikolog dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim menyayangkan apa yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Pertanyaan besar yang belum jelas terjawab adalah, kenapa perempuan 69 tahun itu melakukan kebohongan yang merusak citra dirinya sendiri.

    "Dia semestinya berpikir, kalau kebohongan ini diteruskan maka akan berdampak bukan kepada dia saja, tapi juga keluarga, teman, termasuk orang-orang yang dia dukung," kata Rose Mini kepada Tempo.

    Meski begitu, Rose Mini mencatat ada hal positif yang dilakukan Ratna Sarumpaet terkait kasus ini. "Satu hal positif yang perlu ditandai adalah dia mengakui kesalahannya walaupun terlambat," ucap Rose Mini. Hanya saja, keterlambatan meluruskan informasi yang keliru itu bisa jadi membuat publik sulit percaya kalau mungkin yang dilakukannya ini sekadar guyon belaka.

    "Memang harus dilihat ada masalah apa? Apakah memang hanya ingin menarik perhatian orang kepadanya, atau ada maksud lain?" ucap Rose Mini. Drama hoax Ratna Sarumpaet ini bikin heboh dalam sepekan terakhir.

    Ratna Sarumpaet. ANTARA FOTO/Reno Esnir

    Kepada beberapa temannya, Ratna Sarumpaet mengaku wajahnya babak belur karena dianiaya di Bandung, Jawa Barat pada 21 September 2018. Untuk meyakinkan orang lain, Ratna Sarumpaet menyertakan foto diri dengan wajah bengkak.

    Ketika itu, Ratna Sarumpaet masih terdaftar dalam juru kampanye pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Banyak yang mengaitkan bengkaknya wajah Ratna dengan unsur politik. Dukungan kepada dia mengalir hingga muncul gerakan Solidaritas untuk Ratna Sarumpaet.

    Polisi lantas menelusuri informasi ini dan menemukan sejumlah kejanggalan. Beberapa temuan menunjukkan Ratna Sarumpaet tidak berada di Bandung pada tanggal itu, melainkan berada di sebuah rumah sakit khusus bedah di Jakarta. Dokter ahli bedah yang juga penyanyi, Tompi menegaskan wajah Ratna bengkak bukan karena dipukuli melainkan operasi plastik.

    Baca juga:
    Ratna Sarumpaet, Tompi: Beda Bengkak Dipukuli dan Operasi Plastik

    Belakangan Ratna Sarumpaet membongkar kebohongannya. Dia mengaku wajahnya bengkak karena usai menjalani operasi sedot lemak di sebuah rumah sakit di Jakarta. Ratna Sarumpaet meminta maaf kepada semua pihak, terutama Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

    Artikel terkait:
    Saran Psikolog buat Keluarga dan Teman Ratna Sarumpaet


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.