Kata Pakar, Rasa Melayang saat Jatuh Cinta Ternyata Benar Adanya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan jatuh cinta. shutterstock.com

    Ilustrasi pasangan jatuh cinta. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tubuh memiliki kinerja tertentu ketika sedang jatuh cinta. Bukan hanya reaksi hormon akibat pengaruh otak, melainkan juga reaksi tubuh secara alamiah.

    Namun keadaan ini sering tidak disadari oleh seseorang yang jatuh cinta. Beberapa bahkan ada yang melakukan penyangkalan karena merasa cintanya belum terkonfirmasi.

    Menjadi penting mengetahui reaksi tubuh ketika sedang jatuh cinta. Setidaknya, tubuh dapat memberi tahu, tindakan yang dapat diambil pada tahap percintaan berikutnya. Lima tanda ini dilansir situs Yourtango dari beberapa ilmuwan.

    Baca juga:
    5 Tanda Kita Jatuh Cinta pada Sahabat
    Ladies, Perhatikan Tanda Ini. Si Galak Lagi Jatuh Cinta pada Anda
    3 Zodiak yang Butuh Waktu Lama untuk Jatuh Cinta
    5 Zodiak yang Susah Lupakan Cinta Pertama

    #Ketahuan memandangi seseorang yang disuka dalam waktu cukup lama
    Ahli neural emosi, dokter Brown dari Albert Einstein College of Medicine, Amerika Serikat, mengungkapkan, saat seseorang jatuh cinta, orang tersebut tidak dapat mengontrol pandangan mata terhadap obyek yang menjadi pusat kasih sayang. “Salah satu manifestasi saat jatuh cinta adalah melamun dan mata Anda terus-menerus tertuju pada seseorang," kata Brown.

    #Merasa seperti sedang melayang
    “Saat jatuh cinta, reaksi tubuh sama seperti sedang memakai kokain,” kata dokter Brown. Hampir semua gejala fisik yang muncul sama. Seperti misalnya kelebihan energi, detak jantung yang meningkat, dan tekanan darah yang meninggi terutama ketika melihat orang yang Anda sukai. Menurut Brown, semua gejala ini muncul karena otak secara alami memproduksi hormon dopamin, yaitu hormon yang bertugas membuat tubuh rileks dan bahagia.

    #Tidak dapat menahan keinginan menyentuh tangan seseorang yang disukai
    Dokter Bianca Acevedo dari Newyork University mengatakan saat sedang jatuh cinta, tubuh mereka secara alami bereaksi satu sama lain dan saling bergantung. “Maka manifestasi yang muncul dari reaksi alamiah ini adalah keinginan saling menyentuh,” kata Acevedo.

    #Tidak dapat berhenti berpikir tentang seseorang yang disukai
    Saat jatuh cinta, kadar dopamin seseorang meningkat 85 persen dari hari biasanya. Menurut Brown, saat berada di tahap romantis, manifestasi fisik yang muncul adalah fokus perhatian pada orang yang disuka. Bahkan fase ini dapat meningkat ke tahap berikutnya, yakni fase obsesif. “Reaksi yang muncul sepertinya memang terlihat ekstrem, sebab obsesi ini meningkat 40 persen dari hari biasa, tapi ini cukup normal,” kata Brown.

    #Memiliki firasat yang kuat terhadap orang yang disukai
    Bila seseorang terlibat cinta romantis, orang tersebut lebih memilih untuk hubungan jangka panjang. Hubungan ini akan menciptakan perasaan yang kuat satu sama lain. Efeknya, tercipta firasat yang kuat terhadap pasangan. Bila hanya terlibat nafsu, menurut Brown, hubungan yang tercipta akan lebih singkat. Sebab tidak ada perasaan lebih dalam yang ikut terlibat dalam hubungan tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.