Bukan Daging Buahnya, Inilah Primadona Sesungguhnya dari Alpukat

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alpukat.

    Alpukat.

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama ini kita pasti hanya mengonsumsi alpukat bagian daging buahnya saja. Padahal, ternyata ada bagian lain dari alpukat yang kaya kandungan baik dan lebih menyehatkan.

    Bagian yang dimaksud adalah kulit pada biji buah alpukat. Biasanya, biji alpukat langsung dibuang saja karena dianggap tidak ada gunanya. Namun, menurut sebuah penelitian, ternyata kulit biji alpukat adalah bagian yang paling bergizi.

    Artikel terkait:
    Alpukat, Buah Super dengan Sederet Manfaat Kesehatan
    Sederet Manfaat Alpukat buat Kesehatan dan Mereka yang Diet
    Cara Praktis Agar Alpukat Cepat Matang
    Luar Biasa, Inilah Khasiat Buah Alpukat bagi Kesehatan Anda

    Dikutip dari Metro, studi dari American Chemical Society itu mengungkapkan bahwa bagian dari buah alpukat yang paling menyehatkan ialah kulit bijinya. Menurut mereka, kulit biji alpukat memiliki kandungan yang bisa digunakan untuk mengobati sejumlah penyakit.

    Alpukat. Foto Ilustrasi (Komunika Online)

    "Kulit tipis pada biji alpukat sejak dulu dianggap sebagai bahan limbah yang tak diperlukan, padahal sebenarnya bahan itu adalah permata di dalam permata. Kandungan dalam kulit biji alpukat bisa digunakan obat untuk kanker, penyakit jantung, dan juga penyakit lainnya," ungkap Dr. Debasish Bandyopadhyay, salah satu peneliti ini.

    "Hasil studi kami juga menunjukkan bahwa kulit biji alpukat itu juga bisa menjadi bahan kimia potensial yang dapat digunakan dalam plastik dan produk industri lainnya," tambahnya.

    Senyawa kimia yang ditemukan pada kulit biji alpukat itu rupanya mengandung bahan yang biasanya ditemukan dalam obat antivirus sehingga kandungannya pun bisa menjadi obat untuk melawan pertumbuhan sel tumor dan bisa mencegah dari serangan jantung dan juga stroke.

    TEEN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).