Rabu, 26 September 2018

Jangan Anggap Sepele Skizofrenia, Kenali Gejalanya sejak Awal

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 12_iptek_ilustrasiSkizofrenia

    12_iptek_ilustrasiSkizofrenia

    TEMPO.CO, Jakarta - Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) pada 2016, secara global  terdapat sekitar 35 juta orang yang mengalami depresi, 60 juta orang dengan gangguan bipolar, 21 juta orang mengidap Skizofrenia, dan 47,5 juta orang dengan demensia.

    Sementara itu, di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, pengidap prevalensi gangguan jiwa berat, seperti Skizofrenia mencapai 400.000 orang, atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

    Artikel terkait:
    Mengenali Gejala Skizofrenia pada Anak  
    10 Makanan yang Harus Dihindari Penderita Masalah Mental  
    Skizofrenia: tak semua penderita gangguan jiwa berbahaya
    Aneka Gangguan Mental Menyerang Generasi Milenial, Apa Sebabnya?

    Skizofrenia sendiri merupakan penyakit yang mengurangi kualitas hidup seseorang. Terkadang kemunculannya tidak disadari. Jadi, sangat penting untuk mengetahui gejala atau risikonya.

    Tanda-tanda Skizofrenia yang paling sering muncul adalah delusi atau sesuatu yang dianggap nyata tetapi hal tersebut hanya sebuah ilusi belaka. Contohnya delusi tuduhan, yaitu rasa tertuduh, delusi referensi yaitu perasaan yang sering dianggap berkaitan dengan dirinya padahal sama sekali tidak ada kaitannya.

    Ada juga delusi grandeur, yaitu firasat bahwa diri ini merupakan hasil reinkarnasi tokoh, dan delusi kontrol, yaitu perasaan bahwa pikiran yang sikapnya sedang dikontrol oleh mahluk asing.

    Tanda-tanda lainnya yaitu  halusinasi, gaya bicara yang tidak beraturan, tingkah laku aneh atau tidak biasa, kemudian sikapnya tidak beraturan, susah tidur atau insomnia, gangguan emosional, dan sering curiga terhadap hasil halusinasinya. 

    Sayangnya, meskipun prevelansinya cukup tinggi, fakta yang dikeluarkan WHO, Mental Health Gap Action Programme (MH GAP) pada 2008 telah diperkirakan lebih dari 75 persen orang di negara berkembang di dunia tidak memiliki fasilitas, akses, dan layanan kesehatan yang cukup baik. Padahal, pengidap Skizofrenia memiliki gangguan jiwa yang parah, gangguan berpikir yang mempengaruhi bahasa, persepsi, dan kesadaran diri yang semakin tipis.

    Hal tersebut akan berdampak kepada kemampuannya untuk bekerja, belajar, dan pengendalian jiwa. Menyikapi hal tersebut, maka dibutuhkan  partisipasi dari semua elemen masyarakat untuk membantu dan peka terhadap orang yang memiliki tanda-tanda Skizofrenia dan segera membantu untuk berobat di rumah sakit terdekat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.