Tahapan Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak Menurut Psikolog

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

    Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tidak bisa dihindari, pendidikan seks sangat penting diberikan kepada anak-anak. Tujuannya agar anak bisa tidak menyalahgunakan masalah seks dengan tidak pada tempatnya. Pertanyaannya adalah, kapan dan bagaimana pendidikan seks itu harus diberikan kepada anak-anak.

    Psikolog Inez Kristanti mengatakan pada dasarnya setiap orang itu harus memiliki pendidikan seks seumur hidup. Namun, tahapannya saja yang harus dibedakan sesuai usia dan kebutuhan.

    Artikel terkait:
    Miliki Jantung Sehat dengan Rutin Berhubungan Seks
    Alasan Seseorang Berorientasi Seks Ganda atau Biseksual
    Seks Pranikah, Dampaknya bagi Anda dan Pasangan
    8 Alasan Wanita Menolak Berhubungan Seks

    “Harusnya pendidikan seks ini dilakukan seumur hidup. Hanya saja setiap usia tertentu bahasannya berbeda,” ujar Inez saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 4 September 2018.

    Untuk tahap awal menurut Inez pendidikan seks bisa diberikan kepada anak-anak dengan rentang usia 3-5 tahun. Pada masa ini, para orang tua bisa memperkenalkan bagian-bagian intim pada tubuh seseorang lengkap dengan pengetahuannya.

    “Fokus saja sama bagian tubuh. Kasih tau sama anak, mana bagian yang boleh disentuh orang lain dan mana yang tidak,” lanjut Inez.

    Tahapan selanjutnya ialah di mana anak-anak sudah mulai mau memasuki masa pubertas. Pada saat ini disampaikan Inez, biasanya anak-anak pada masa ini sudah mulai mengenal atau memiliki ketertarikan kepada lawan jenis mereka.

    “Masa ini mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis. Oleh sebab itu, orang tua harus bisa mengarahkan dan memberitahu apa yang harus dilakukan” kata Inez.

    Selanjutnya, Inez juga mengingatkan para orang tua jika sebelum memberitahu anak-anak mereka soal urusan seks, ada beberapa hal yang harus diperhatikan lebih dulu. Dalam hal ini kata dia, untuk mendapatkan pembicaraan yang baik orangtua harus memiliki hubungan yang baik dengan anal-anak mereka.

    “Karena kebanyakan orangtua itu gengsi untuk membicarakan soal seks dengan anak-anak mereka. Alangkah lebih baik jika membicarakan ini dengan orang yang memiliki jenis kelamin yang sama, misalkan anak laki-laki dengan ayah dan anak perempuan dengan ibu,” paparnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.