Ahli Jelaskan Sisi Negatif Diet Rendah Karbohidrat Jangka Panjang

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi diet. shutterstock.com

    Ilustrasi diet. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada banyak cara untuk menurunkan berat badan salah satunya diet rendah karbohidrat, Namun menurut sebuah studi yang dipresentasikan dalam European Society fot Cardiology Congress di Jerman beberapa waktu lalu, diet rendah karbohidrat bukan cara terbaik untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

    Baca juga: Diet Keto, Boleh Makan Enak Asal Tanpa Karbohidrat

    Para peneliti menemukan, diet sangat rendah karbohidrat bisa meningkatkan seseorang berhadapan dengan kematian. “Pesannya jelas. Kita harus menghindari diet dengan kadar karbohidrat rendah dan bahkan sangat rendah, terutama yang jumlah asupan kalorinya kurang dari 26 persen,” ujar penulis syudi dari Polish Mother’s Memorial Hosptial Research Institute, Maciej Banach.

    Diet rendah karbohidrat belakangan menjadi popular khususnya bagi mereka yang menurunkan berat badan. Namun studi dalam jurnal Lancet menemukan bahkan karbohidrat dalam jumlah cukup merupakan asupan terbaik untuk harapan hidup lebih lama. Hal ini juga menunjukkan bahwa kehilangan berat badan karena diet rendah karbohidrat justru berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang.

    ADVERTISEMENT

    Untuk sampai pada kesimpulan ini, sebuah studi yang tidak dipublikasikan mengumpulkan data kesehatan 25 ribu orang dari tahun 1999 dan 2010.  Peneliti menemukan, lebih dari rata-rata 6,4 tahun pengamatan, mereka yang asupan karbohidratnya terendah berisiko 32 persen menghadapi kematian, 50 persen lebih tinggi berisiko penyakit vascular dan 36 persen lebih tinggi karena kanker, ketimbang orang yang asupan karbohidratnya paling banyak.

    Ilustrasi diet. shutterstock.com

    Peneliti juga mengamati tujuh studi berbeda mengenai karbohidrat dan kesehatan yang melibatkan 447.500 orang. Hasilnya, diet rendah karbohidrat berhubungan dengan 15 persen lebih tinggi risiko kematian, 13 persen lebih tinggi kematian karena masalah kardiovaskular. Lalu, 8 persen lebih tinggi kematian akibat kanker, dibandingkan mereka yang diet tinggi karbohidrat.

    Banach mengatakan berdasarkan studi kasus ini, orang-orang mengalami masalah yakni ternutrisi, namun mengganti karbohidrat dengan daging dan produk-produk susu. Diet tinggi produk hewani versus produk nabati bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit jantung dan daging berhubungan dengan kanker. "Nutrien alami untuk asupan sehari-hari sangat penting. Karenanya, membatasi satu dari nutrien ini bisa membahayakan kesehatan kita," tutur Banach.

    Di sisi lain, ahli diet teregistrasi dari NYU Langones Weight Management Program, Despina Hyde sependapat dengan ini. "Saat Anda tak makan karbohidrat, Anda harus makan sesuatu. Kita mengonsumsi protein dan lemak lebih tinggi (dalam diet rendah karbohidrat). Karbohidrat adalah sumber serat dan serat sangat bagus untuk menurunkan risiko terkena kanker payudara, menurunkan kadar kolesterol dan membuat kita kenyang lebih lama," kata dia.

    Hyde merekomendasikan beberapa asupan karbohidrat pada menu makan. "Pilihlah biji-bijian utuh, karbohidrat tingi serat seperti buah-buahan, biji gandum, --tidak perlu roti, pasta atau kue-kue kering," tutur dia seperti dilansir Time.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.