Minggu, 18 November 2018

Generasi Milenial Rentan Stres, Atasi dengan Cara Mudah

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi stres di kantor. Shutterstock

    Ilustrasi stres di kantor. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Menurut Asosiasi Psikiater Amerika Serikat (APA), generasi milenial adalah generasi paling banyak mengalami kecemasan dalam satu dekade terakhir, diikuti generasi baby boomer, dan generasi Z. APA juga menyebut 86 persen orang milenial mengalami krisis perempat abad dan tidak puas dengan kehidupan.

    Poppy Jamie adalah pendiri Happy Not Perfect, aplikasi yang memandu penggunanya untuk keluar dari kecemasan dan menemukan kebahagiaan. Sebelum membuat aplikasi ini, Jamie termasuk bagian dari generasi milenial yang menderita stres dan kecemasan tingkat tinggi.

    Baca juga:
    Generasi Milenial Rela Habiskan Jutaan Rupiah untuk Kecantikan
    Alasan Generasi Milenial Lebih Suka Transaksi Nontunai
    Generasi Milenial Dicap Kutu Loncat dalam Karier, Ini Alasannya
    4 Kiat buat Generasi Milenial untuk Menghindari Depresi

    Dengan bantuan sang ibu yang seorang psikiater, ia berhasil keluar dari gangguan kesehatan mental, bahkan masuk ke dalam daftar 30 Pengusaha Sukses di Bawah 30 tahun versi Forbes 2017.

    Untuk membantu generasi milenial yang senasib, Jamie, yang saat ini menjabat anggota termuda Dewan Penasihat Rumah Sakit Neuropsikiatri Resnick di Universitas California Los Angeles, AS, memberikan lima cara sederhana buat generasi milenial untuk mencegah stres dan rasa cemas berlebih.

    #Pernapasan perut
    Cara paling sederhana, lakukan pernapasan perut setidaknya 1 menit setiap hari. Teknik pernapasan perut ini menstimulasi saraf vagus, yang mengubah rasa tegang menjadi santai dan rileks. Kabar baiknya, pernapasan perut bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Jamie bahkan mengatakan dia kerap mempraktikkannya di tengah rapat yang alot. Teknik ini membantunya berpikir jernih dan membuat keputusan tepat.

    #Tuangkan ke dalam tulisan
    Ketika stres dan cemas, bagian emosional dalam pikiran biasanya bekerja sangat aktif. Pikiran liar pasti melontarkan kata-kata kasar, bahkan terkadang kita tidak bisa mengendalikannya. Alih-alih menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk ucapan kemudian menyesalinya, Jamie menyarankan agar menuangkan ke dalam bentuk tulisan.

    “Mencatatkan apa yang ada di pikiran akan membuat korteks prafrontal (otak bagian depan) aktif dan menenangkan bagian amigdala (pusat emosi pada otak),” kata Jamie.

    Tentu saja, catatan ini harus dibuat secara pribadi, bukan di media sosial.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.