Siapa Bilang Hipertensi Penyakit Orang Kota? Dokter Berkata Lain

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fotografer Reuters, Gonzalo Fuentes, memeriksa tekanan darah oleh paramedis di pusat media stadion di Kaliningrad, Rusia, 21 Juni 2018. REUTERS/Fabrizio Bensch

    Fotografer Reuters, Gonzalo Fuentes, memeriksa tekanan darah oleh paramedis di pusat media stadion di Kaliningrad, Rusia, 21 Juni 2018. REUTERS/Fabrizio Bensch

    TEMPO.CO, Jakarta - Mengukur tekanan darah secara rutin penting dilakukan untuk menghindari tekanan darah tinggi atau hipertensi, yang bisa mengakibatkan berbagai penyakit lain. Salah satu cara yang digalakkan adalah penyelenggaraan Bulan Tekanan Darah atau  May Measurement Month.

    Pada tahun 2017, saat Bulan Tekanan Darah atau  May Measurement Month diikuti lebih dari 70.000 orang di 34 propinsi di Indonesia. Adapun pada 2018, lebih dari 120.000 orang di 27 propinsi telah menjalani pengukuran tekanan darah.

    Baca juga:
    Perempuan Lebih Rentan Terkena Hipertensi
    Yang Harus Dipilih dan Dihindari Penderita Hipertensi  
    Banyak Penderita Hipertensi Tak Sadar Penyakitnya
    6 Makanan Sehat untuk Penderita Hipertensi

    Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Bambang Widyantoro, yang juga ketua panitia May Measurement Month, mengatakan dari hasil pengukuran di 2017 ditemukan bahwa satu dari tiga orang dewasa dengan rata-rata usia 41 tahun mengalami peningkatan tekanan darah. Selain itu, diketahui juga bahwa satu dari 10 orang baru mengetahui bahwa tekanan darahnya di atas normal.

    Bambang mengatakan hal menarik yang didapatkan dari hasil penemuan tersebut ialah tingkat pendidikan ternyata memiliki korelasi dengan tingginya level tekanan darah.

    “Semakin baik edukasinya maka tingkat tekanan darahnya semakin baik, ini mungkin karena mereka lebih peduli terhadap kesehatan,” tutur Bambang.

    Tidak hanya dari tingkat pendidikan, perbedaan lokasi tempat tinggal juga cukup berpengaruh. Jika selama ini banyak masyarakat yang beranggapan bahwa hipertensi merupakan penyakit orang kota, ternyata belum tentu benar.

    Ilustrasi garam. Shutterstock

    Dari hasil penelitian justru ditemukan bahwa masyarakat pedesaan memiliki tingkat tekanan darah yang lebih tinggi. Hal ini, sambungnya, tidak lepas dari kebiasaan masyarakat pedesaan yang senang mengonsumsi makanan seperti garam dan ikan asin. 

    Menurut dokter yang juga berpraktik di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta ini, hasil survei yang didapatkan tersebut sejalan juga dengan data yang pernah dikumpulkan sebelumnya mengenai studi hipertensi di kawasan pedesaan di Bandung dan Bogor.

    Dari hasil survei ditemukan bahwa masyarakat di daerah tersebut banyak mengonsumsi natrium dan sodium tinggi seperti ikan asin. Selain itu, banyak juga yang mengonsumsi jajanan yang mengandung banyak garam dan mecin.

    “Pola makan yang tidak sehat dikaitkan dengan pengetahuan dan level edukasi yang rendah membuat tingkat kesadaran masayarakat terhadap kesehatan kurang sehingga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi,” ujarnya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.