Senin, 24 September 2018

Ahli Gizi Ungkap soal Keamanan Konsumsi Susu Kental Manis

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Susu kental manis. Finecooking.com

    Susu kental manis. Finecooking.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Susu kental manis menjadi pembicaraan hangat pada pertengahan 2018. Polemik tersebut memuncak yang diikuti oleh argumen pro dan kontra terhadap produk ini.

    Beragam pertanyaan pun muncul, seperti apakah susu kental manis (SKM) merupakan produk susu? Apakah SKM aman dikonsumsi? Apakah SKM memberikan efek buruk bagi kesehatan?

    Dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, konsumsi susu nasional masih tergolong rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2017, konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 16,5 liter per kapita per tahun.

    Baca juga:
    Kadar Gula Tinggi, Biang Keladi Kontroversi Susu Kental Manis
    Alasan Susu Kental Manis Tidak Baik untuk Anak
    Kemenkes Ingatkan Produk Kental Manis Bukan Susu untuk Anak
    Ingat, Tak Semua Susu Baik untuk Anak. Ini Contohnya

    Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia (50,9 liter), Thailand (33,7 liter), dan Filipina (22,1 liter), mengacu pada data USDA Foreign Agricultural Service 2016.

    Produksi susu segar di Indonesia baru mencapai 920.093,41 ton pada 2017, naik tipis 0,81 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 912.735,01 ton. Dari berbagai jenis susu yang beredar di pasaran, susu kental manis merupakan jenis susu yang paling banyak dibeli oleh masyarakat Indonesia.

    Guru Besar Institut Pertanian Bogor  Ahmad Sulaeman menyatakan bahwa susu kental manis terbuat dari susu segar serta kandungan lain seperti susu skim, susu skim powder, gula, susu bubuk whey, buttermilk powder, serta minyak sawit.

    “Susu kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu,” ungkapnya.

    SKM, lanjutnya, merupakan hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain. Gula yang ditambahkan digunakan untuk mencegah kerusakan produk.

    “Produk susu kental manis lantas dipasteurisasi dan dikemas secara kedap (hermetis),” jelas Ahmad.

    Ahmad Syafiq, Pakar gizi sekaligus Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Indonesia (PKGK UI), menyampaikan bahwa susu kental manis memiliki kandungan energi yang diperlukan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep