Senin, 17 Desember 2018

Ahli Jelaskan Kaitan Anak Terlalu Aktif dengan Makanan Manis

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak-anak berlari. shutterstock.com

    Ilustrasi anak-anak berlari. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak berusia 1-5 tahun berada dalam tahap aktif dan selalu ingin bergerak. Namun, keaktifan anak juga dipengaruhi oleh makanan.

    Baca juga:
    Memahami Cara Tepat Memberi Makan Balita

    Anak Susah Makan Rentan Stress Jika Terus Dipaksa 

    Ahli gizi medik Dr. Saptawati Bardosono, MSc, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelaskan bahwa anak-anak yang terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis membuat perilakunya cenderung tidak terkendali. "Kalau anak terlalu banyak makan manis bisa tidak terkendali, gerakannya tidak terkontrol, main enggak bisa distop. Kenapa? Karena dia dapat energi dari makanan manis, glukosanya itu. Ada yang bilang sugar rush," katanya.

    Saptawati menambahkan, sugar rush ini bisa terjadi karena tingginya kadar glukosa dari makanan manis yang mereka konsumsi. Pasalnya, glukosa dalam tubuh dengan cepat berubah menjadi energi. Hal itu yang menyebabkan anak menjadi sangat aktif hingga sulit dikontrol.
     
    Ilustrasi permen. shutterstock.com

    Artikel lain:
    Biasakan Anak Makan Sambil Duduk, Bukan Digendong


    Trik Membujuk Anak agar Mau Makan

    Ini berbeda jika dibandingkan dengan anak yang banyak mengkonsumsi laktosa yang biasanya terdapat dalam susu. Selain memerlukan waktu yang lama untuk bisa menghasilkan energi, laktosa yang dipecah pun bukan menjadi glukosa melainkan galaktosa.

    "Bukan glukosa atau gula yang cepat menaikkan gula darah. Galaktosa adalah energi buat otak. Jadi kalau otaknya dikasih energi, otaknya tentu happy. Jadi anak yang diberi makanan makanan manis dibanding kita kasih makanan yang mengandung prebiotik atau susu, anak perilaku dan moodnya beda," lanjutnya. 

    Tak hanya itu, gula juga tidak menghasilkan makanan untuk bakteri baik dalam tubuh. Sehingga, saat jumlah bakteri baik berkurang, maka bakteri tersebut tidak dapat menjaga saluran cerna dan akan mengakibatkan pencernaan anak terganggu.

    Meski demikian, Saptawati tetap memperbolehkan anak mengkonsumsi makanan manis asal diseimbangkan dengan makanan bergizi dan dikonsumsi dalam batas wajar. Dan disarankan memberi makanan manis alami seperti yang terdapat dalam buah atau sayur. "Boleh manis, tapi kalau bisa manis dari makanan alami seperti sayuran atau buah. Jangan dari cake, cookies, cokelat, gula-gula. Gulanya akan cepat naik," ujarnya. 

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".