Rabu, 18 Juli 2018

Dokter Jiwa Membagi Kiat agar Anak Tak Kecanduan Gawai

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak dan games/permainan/gadget. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak dan games/permainan/gadget. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Telepon seluler pintar atau smartphone dengan layanan Internet kini hampir menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian masyarakat. Selain mudah digunakan karena dilengkapi aplikasi yang diperlukan, ponsel pintar digunakan untuk mengakses informasi dan hiburan. Namun penggunaan yang tidak tepat atau berlebihan dapat membawa penggunanya pada ketergantungan atau kecanduan.

    Praktisi kesehatan jiwa dari Universitas Atma Jaya, dr Eva Suryani, SpKJ, menyatakan tidak dimungkiri saat ini gawai digunakan di mana-mana dan oleh segala usia. Berbagai fitur pada ponsel dimanfaatkan tidak hanya untuk mendukung pekerjaan orang dewasa, tapi banyak juga orang tua yang menggunakan gawai seperti pengasuh untuk menenangkan bayi dan balita.

    “Semakin terpapar pada saat usia yang semakin dini, kerentanan (ketergantungan) terhadap gadget dan Internet itu akan semakin besar,” ujar Eva.

    Artikel terkait:
    Survei: 99 Persen Anak Bermain Gawai di Rumah
    6 Cara Sederhana agar Anak Tak Kecanduan Gawai
    Benarkah Anak Jadi Lebih Pintar bila Sering Bermain Gawai?
    Hindari Masalah Kesehatan karena Gawai dengan Cara Berikut

    Eva menekankan bahwa otak anak belum berkembang secara sempurna. Bayi, balita, anak, dan remaja belum dapat membedakan mana hal yang benar dan salah, serta hal yang boleh dilakukan atau tidak.

    “Mereka bahkan belum mengerti apa itu definisi membatasi. Karena itu, potensi munculnya perilaku impulsif menjadi tinggi,” ucapnya.

    Sementara itu, dr Kristiana Siste, SpKJ(K) dari Departemen Psikiatri Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia juga menjelaskan bahwa ketergantungan atau kecanduan merupakan sebuah pola perilaku yang menekan untuk dilakukan atau digunakan secara terus-menerus meskipun terdapat konsekuensi negatif, baik fisik, sosial, spiritual, mental, maupun ekonomi.

    “Ada yang menyebut adiksi ini sebagai brain disease karena memang ada gangguan di bagian otak seseorang sehingga sulit mengendalikan perilakunya,” tutur Siste.

    Menurut Siste, seseorang yang mengalami adiksi, struktur dan fungsi otaknya berubah, terutama bagian pusat kognitif, yang disebut pre-frontal cortex. Gangguan pada bagian otak tersebut mengakibatkan orang yang mengalami suatu ketergantungan atau kecanduan kehilangan beberapa kemampuan otaknya, antara lain fungsi atensi (memusatkan perhatian terhadap sesuatu hal), fungsi eksekutif (merencanakan dan melakukan tindakan), dan fungsi inhibisi (kemampuan untuk membatasi).

    Siste juga menegaskan pola orang tua dalam menggunakan gawai, terutama di hadapan anak-anak, akan menjadi contoh bagi mereka dan tanpa sadar membentuk pola pikir mereka. Karena itu, penting bagi para orang tua memperhatikan beberapa rekomendasi dalam menggunakan gawai tersebut.

    “Bayi 0-6 bulan sebaiknya tidak diperkenalkan smartphone. Bayi usia 1-2 tahun boleh diperkenalkan namun tidak boleh lebih dari 1 jam per hari. Anak sampai dengan usia 6 tahun boleh menggunakan gadget namun harus selalu diawasi orang tua, sementara anak usia lebih dari 6 tahun boleh menggunakan hanya untuk program-program yang aman untuk usianya, serta penggunaan gadget tidak lebih dari 3 jam per hari,” tutur Siste.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Musim Berburu Begal Saat Asian Games 2018 di Jakarta

    Demi keamanan Asian Games 2018, Kepolisian Daerah Metro Jaya menggelar operasi besar-besaran dengan target utama penjahat jalanan dan para residivis.