Datang Bulan Bukan Masalah buat Dua Pendaki Seven Summits Ini

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua pendaki wanita Indonesia Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, saat kunjungan ke kantor TEMPO, Jakarta, Kamis, 7 Juni 2018. TEMPO/Fajar Januarta

    Dua pendaki wanita Indonesia Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, saat kunjungan ke kantor TEMPO, Jakarta, Kamis, 7 Juni 2018. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua wanita Indonesia akhirnya berhasil mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia. Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, atau akrab disapa Didi dan Hilda, baru saja menyelesaikan ekspedisi Seven Summits.

    Mereka telah menyambangi Puncak Jaya di Papua, Kilimanjaro di Afrika, Aconcagua di Amerika Selatan, Vinson Massif di Antartika, Denali di Amerika Utara, dan Elbrus di Eropa. Didi dan Hilda berhasil menunjukkan kalau wanita Indonesia juga bisa mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia  seperti pria.

    Baca juga:
    Fransisca Dan Mathilda Target Summit Everest Sebelum Sarjana
    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits
    Fransiska-Mathilda, Pendaki Puncak Everest Bisa Jadi Duta Bangsa
    Sebelum Duo Srikandi, Ini Pendaki Indonesia Seven Summiters Lain

    “Kita sudah pernah melihat pria Indonesia menyelesaikan ekspedisi Seven Summits. Tapi wanita kok tidak ada? Padahal kita tuan rumah dari salah satu summit tersebut,” ujar Didi kepada Tempo, Kamis 7 Juni 2018.

    Didi dan Hilda ingin menunjukkan ke dunia internasional kalau wanita Indonesia juga bisa menyelesaikan ekspedisi ini. Mendaki gunung membutuhkan waktu yang lama. Pada saat mendaki Gunung Everest, dengan ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut (mdpl), mereka menghabiskan waktu 30 hari.

    Untuk para wanita, datang bulan menjadi satu hal yang harus diperhatikan karena memiliki dampak pada fisik dan juga secara emosional. Datang bulan atau haid adalah hal alami pada wanita. Namun, untuk Didi dan Hilda, datang bulan tidak pernah menjadi hambatan saat mereka mendaki gunung.

    Fransiska Dimitri (kanan) dan Mathilda Dwi Lestari di puncak tertinggi Antartika, Vinson Massif, awal Januari lalu. Dok. Women of Indonesia's Seven Summits Expedition (WISSEMU)

    “Awalnya kita mencoba suntik seperti orang umrah supaya tidak haid. Ternyata tidak berguna karena karena tetap haid,” lanjut Didi.

    Hilda menambahkan kalau ketinggian puncak yang mereka daki bisa menjadi alasan mengapa siklus haid mereka juga menjadi kacau, antara terlalu sering haid atau malah jarang.

    “Hari pertama dan kedua bisa sakit banget dan kalau Hilda suka grumpy. Kalau di atas jadi semakin parah, pusing juga kan pada saat kita butuh darah merah banyak untuk oksigen, malah dibuang,” jelas Didi.

    Dua pendaki mahasiswi tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Universitas Parahyangan (WISSEMU), Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, berhasil mencapai puncak Everest pada 17 Mei 2018. instagram.com

    Walaupun melewati semua hal tersebut saat datang bulan, Didi dan Hilda tetap melanjutkan ekspedisi. Mereka hanya menggunakan beberapa obat untuk membantu saat sedang datang bulan. “Puji Tuhan saja sih tidak pernah dapat saat di puncak. Fisiknya pasti turun pas itu,” tutur Hilda.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Ini Tanda-Tanda Anda Terjangkit Cacar Monyet

    Cacar monyet atau monkey pox merupakan penyakit yang berasal dari sisi Barat Afrika. Penyakit ini menular melalui monyet, tikus Gambia, dan tupai.