Tak Harus Minyak Sawit, 5 Minyak Ini Lebih Sehat untuk Menggoreng

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Minyak goreng. palmoilhealth.org

    Minyak goreng. palmoilhealth.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Kita biasa menggunakan minyak goreng sebagai salah satu bahan penting di dapur untuk menumis atau menggoreng. Minyak goreng yang umum dipakai sehari-hari biasanya terbuat dari kelapa sawit.

    Ketahanan terhadap panas yang cukup tinggi membuat jenis minyak ini jadi pilihan tepat untuk menghasilkan gorengan renyah. Namun, penggunaan minyak goreng yang berkali-kali mengalami pemanasan memiliki dampak yang tidak baik terhadap tubuh akibat perubahan struktur kimia penyusunya sehingga berpotensi bersifat karsiogenik.

    Agar konsumsi makanan yang digoreng lebih sehat, beberapa jenis minyak berikut dapat menjadi pilihan pengganti minyak kelapa sawit.

    Artikel terkait:
    Kiat Memilih Minyak Goreng yang Berkualitas
    Ada 9 Jenis Minyak untuk Memasak, Mana yang Baik untuk Kesehatan
    Jangan Simpan Minyak Goreng di Kulkas, Bisa Picu Kanker

    #Minyak jagung
    Minyak yang berasal dari ekstraksi biji jagung ini memiliki kandungan asam lemak jenuh yang lebih rendah dibandingkan minyak kelapa sawit. Minyak ini memiliki titik asap pada suhu 204°C-213°C sehingga cukup tahan panas dan dapat digunakan untuk menggoreng ataupun menumis.

    Minyak jagung memiliki kandungan asam lemak esesial penting untuk tubuh, seperti asam oleat, asam linoleat, serta asam lemak tak jenuh tungggal yang membuatnya efektif menurunkan kadar kolesterol apabila dikonsumsi secara rutin. Kandungan asam linoleat pada minyak ini juga bermafaat untuk mempercepat regenerasi sel kulit mati dan meningkatkan transfer oksigen sehingga menutrisi kulit agar tampak sehat.

    #Minyak kedelai
    Minyak kedelai mengandung 15 persen lemak jenuh, jumlah yang lebih rendah dibandingkan lemak jenuk pada minyak kelapa sawit yang mencapai 41 persen. Minyak kedelai yang dibuat dengan cara ekstraksi ini efektif meingkatkan kadar kolesterol baik dan menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah.

    Isoflavon yang terkandung pada biji kedelai mampu menangkal radikal bebas serta membantu meningkatkan kepadatan tulang sehingga mencegah osteoporosis. Minyak ini dapat digunakan untuk menggoreng pada suhu cukup tinggi sehingga bisa menjadi alternatif minyak yang kebih sehat sebagai pengganti minyak goreng sawit.

    #Minyak kulit padi (rice barn oil)
    Minyak ini dihasilkan dari ekstrak dedak atau kulit padi memiliki kandungan orizanol, yaitu sumber antioksidan penting untuk menangkal radikal bebas. Kombinasi kandungan vitamin E dan antioksidannya mampu menjaga kesehatan jantung dan menurunkan kadar kolesterol jahat. Kandungan asam lemak jenuh 20 persen dan kadar asam lemak tak jenuhnya 33 persen membuat minyak ini dianggap lebih sehat untuk digunakan sebagai minyak goreng.

    Ilustrasi minyak zaitun. itsfordinner.com

    #Minyak zaitun
    Minyak yang berasal dari pengolahan buah zaitun ini bisa jadi opsi untuk menumis, memanggang, atau sebagai dressing salad.  Minyak zaitun mengandung asam lemak tak jenuh tunggal dan antioksidan tinggi sehingga baik dikonsumsi tanpa meningkatkan kadar kolesterol jahat.

    Akan tetapi, penggunaan minyak zaitun untuk menggoreng patut diperhatikan karena memiliki titik asap yang lebih rendah dibandingkan minyak goreng biasa sehingga suhu rendah dan waktu memasak singkat adalah cara tepat untuk menjaga kandungan nutrisinya.

    #Minyak kanola
    Minyak kanola adalah salah satu jenis minyak nabati yang mengandung 94 persen lemak jenuh dan omega 3 sehingga baik untuk tubuh. Minyak berbahan biji bunga kanola ini memiliki rasa yang netral sehingga cocok untuk memasak apa saja. Titik asapnya yang tinggi membuat minyak dengan kandungan asam lemak alfa-linoleat (ALA) ini juga bisa digunakan sebagai alternatif untuk menggoreng dengan suhu tinggi layaknya minyak kelapa sawit.

    TEEN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.