Saran Psikolog Ajarkan Anak Konsep Ibadah dan Pahala

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak tarawih. REUTRES

    Ilustrasi anak tarawih. REUTRES

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak jarang orang tua menjanjikan hadiah agar anak lebih bersemangat belajar puasa Ramadan dan menjalankan ibadah sunah seperti salat tarawih dan mengaji. Namun kalau begini, tidakkah anak menjalani ibadah semata-mata karena mengejar hadiah, bukan pahala?

    Menurut psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, konsep soal agama, ibadah, dan pahala merupakan sesuatu yang abstrak. Agar lebih mudah dipahami anak, konsep harus dijelaskan dengan contoh. Selama Ramadhan, orang tua harus memberi contoh amalan ibadah apa saja yang harus dilakukan, seperti puasa, salat, tadarus, dan tarawih.

    “Namun memberi contoh saja tidak cukup untuk membuat anak mau ikut menjalani ibadah secara rutin, tanpa harus dipaksa. Anda juga harus memberi alasan yang kuat mengapa anak harus beribadah,” urai Vera.  Sekali lagi, tidak seperti orang dewasa yang beribadah untuk mendapatkan pahala dan karena itu perintah Allah, anak-anak belum memahami konsep pahala, dosa, surga, dan sejenisnya.

    Artikel lainnya:

    Memahami Usia yang Tepat Anak Mulai Berpuasa
    Kata-kata Orang Tua Supaya Anak Semangat Puasa
    Perlukah Memberi Hadiah bagi Anak yang Berpuasa?

    Bagaimana Mengajarkan Konsep Soal Agama, Ibadah, dan Pahala kepada Anak-anak? (Depositphotos)
    (Depositphotos)

    “Tahap pemikiran yang dibutuhkan untuk memahami alasan-alasan itu adalah tahap pemikiran abstrak. Sayangnya, tahap perkembangan pemikiran anak-anak belum sampai ke sana,” Vera menjelaskan.

    Sebelum memasuki usia remaja, setidaknya hingga usia 11 tahun, anak masih kesulitan untuk memahami hal-hal abstrak dan masih sebatas memahami secara logis hal-hal yang konkret saja. Konkret artinya yang terlihat, bisa disentuh atau nyata bentuknya bagi anak. 

    “Berdasarkan ini, sulit bagi kita untuk mengharapkan anak melakukan ibadah karena dia paham akan mendapatkan pahala di akhirat nanti, misalnya. Atau sebaliknya, tidak boleh melakukan sesuatu karena berdosa. Jadi anak perlu didorong dengan sesuatu yang nyata agar mereka mau melakukan apa yang kita harapkan, seperti hadiah,” kata Vera.

    Tentu saja, mengiming-iming anak dengan hadiah ini harus dikurangi seiring usia anak yang semakin dewasa dan mampu memahami hal-hal abstrak seperti hakikat ibadah.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.