Rabu, 24 Oktober 2018

8 Faktor Risiko yang Memicu Mata Kering

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata kering. shutterstock.com

    Ilustrasi mata kering. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada beberapa kelainan mata yang sering dialami, salah satunya mata kering. Kelainan ini ditandai dengan ketidakseimbangan produksi air mata dan adanya peningkatan kekentalan air mata yang dapat memicu kerusakan serta peradangan di permukaan mata. 

    Dokter spesialis mata Nina Asrini Noor menjelaskan ada sejumlah faktor yang memicu risiko terjadinya mata kering. "Yang pertama, usia. Memasuki usia 50 tahun dan fase menopause, risiko mata kering meningkat. Hidup di lingkungan berdebu, kering, dan berangin juga memicu mata kering," ujar Nina di Jakarta pekan lalu.

    Artikel lainnya:
    8 Hal yang Sering Menyebabkan Masalah pada Mata
    10 Masalah Kesehatan yang Tampak dari Mata 

    Faktor risiko lain yakni memiliki riwayat operasi mata penggunaan obat mata tanpa pengawasan dokter, penggunaan lensa kontak yang tidak tepat alias mengabaikan aspek kebersihan, terlalu sering menggunakan komputer atau gawai, riwayat diabetes, dan autoimun. Mereka yang memiliki faktor risiko ini mudah terkena mata kering.

    Nina mengatakan jika mata kering tidak ditangani dengan baik, pasien akan mengalami penurunan kualitas hidup karena bergantung kepada obat. "Bayangkan kalau tiap dua jam harus meneteskan obat mata akan sangat merepotkan, menurunkan kualitas hidup, dan mengganggu pekerjaan," ujar dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Jakarta Eye Center Jakarta Barat ini. 

    Baca juga: Cara Istirahatkan Mata yang Lelah Lihat Gadget atau Komputer

    Dalam jangka panjang, mata kering bisa menyebabkan kerusakan permanen pada mata infeksi, dan kualitas penglihatan menurun dratis. Sebab itu sangat penting mengenali gejala mata kering sejak dini.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.