Hari Gendut Sedunia: Jangan Mengejek Orang Gemuk, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perempuan gendut. Shutterstock

    Ilustrasi perempuan gendut. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Entah dari mana muasalnya, 13 April diperingati sebagai Hari Gendut Sedunia, yang di dunia internasional sebenarnya lebih dikenal sebagai No Diet Day. Dalam bukunya Thin for Life (2003), Anne Fletcher menyebut hari INDD sebagai kampanye untuk menghilangkan stigma negatif untuk orang gemuk, sekaligus mengajak mereka untuk hidup lebih sehat.

    Stigma masyarakat terhadap bentuk dan ukuran tubuh yang berbeda-beda tidak hanya melukai perasaan seseorang. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal Obesity mengungkap konsekuensi fatal dari fat shaming atau ejekan gendut terhadap kesehatan fisik dan psikologis seseorang.

    Menurut penelitian tersebut, individu yang merasa terkucil karena berat badannya memiliki risiko tiga kali lebih besar terkena diabetes, penyakit jantung, dan strok dibandingkan orang lain dengan berat yang sama, tapi tidak merasa demikian.

    “Salah besar kalau Anda mengira ejekan gendut akan memotivasi penderita obesitas untuk mengubah pola hidup mereka,” kata penulis penelitian itu, Rebecca Pearl.

    Pearl, yang juga asisten dosen di Pusat Gangguan Pola Makan dan Berat Badan Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, menjelaskan risiko psikologis yang terjadi pada individu yang diolok-olok gendut.

    “Dia pasti merasa malu karena penampilan fisiknya dan ini membuatnya berpotensi mengalami depresi,” ujarnya, seperti dilansir Huffington Post.

    Artikel lain:
    5 Kebiasaan Buruk Para Pekerja yang Bikin Gemuk
    Susu Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?
    Makanan Rendah Lemak Justru Bisa Bikin Gemuk

    Penelitian lainnya, menurut Pearl, menjelaskan bahwa ejekan gendut justru membuat mereka semakin gemuk, memiliki risiko obesitas, bahkan kematian yang lebih cepat.

    Dalam risetnya, Pearl dan tim meneliti 159 penderita obesitas berusia 21-65 tahun. Mereka menyebutkan betapa buruknya konsekuensi dari stigma mengenai berat tubuh terhadap kondisi emosional mereka. Sebagian besar peserta penelitian setuju bahwa dicap gendut membuat mereka gelisah dan tertekan.

    Kegelisahan dan stres diukur melalui tekanan darah, ukuran lingkar pinggang, kadar trigliserida, kolesterol HDL, dan glukosa. Mereka yang memiliki kadar di bawah standar didiagnosis menderita sindrom metabolik, yaitu kondisi tubuh yang berisiko tinggi terkena penyakit jantung, diabetes, dan strok.

    Penelitian ini juga menemukan bahwa mereka yang kerap diejek gendut memiliki kadar trigliserida enam kali lebih besar dan berpotensi mengidap sindrom metabolik tiga kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak mengalami fat shaming.

    Melecehkan tubuh seseorang yang gemuk akan membuat kepercayaan diri mereka terguncang. Kemampuan mereka untuk mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat juga menurun.

    “Berat badan dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan karakter pribadi. Dengan demikian, sangat penting bagi masyarakat untuk mengingat bahwa berat badan bukan cerminan karakter seseorang,” kata Pearl.

    Pearl juga mengemukakan penelitian mendalam mengenai obesitas dengan peserta yang lebih beragam sangat diperlukan. Dia mengakui penelitian yang dilakukannya tergolong kecil.

    Mayoritas peserta penelitian Pearl adalah wanita Afrika-Amerika, yang jarang diikutsertakan sebagai peserta penelitian obesitas. Dia menyebutkan ada potensi pengaruh ras tertentu terhadap hasil penelitian yang dia dan tim lakukan.

    Namun, untuk saat ini penelitian Pearl telah berhasil mengupas masalah kesehatan yang diakibatkan oleh stigma mengenai berat badan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.