Uli Silalahi Buktikan Anak Bisa Lepas dari Gadget karena Buku

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Uli Silalahi, Presiden Director PT Jaya Ritel Indonesia, di Pameran Big Bad Wolf, Indonesia Convention Exhibition, BSD City (Tempo/Astari P Sarosa)

    Uli Silalahi, Presiden Director PT Jaya Ritel Indonesia, di Pameran Big Bad Wolf, Indonesia Convention Exhibition, BSD City (Tempo/Astari P Sarosa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pameran buku Big Bad Wolf sudah berlangsung dari tanggal 29 Maret - 9 April 2018 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang. Pameran yang digelar 24 jam nonstop tersebut menawarkan 5,5 juta buku dengan variasi genre yang lengkap.

    Tahun ini adalah tahun ketiga Big Bad Wolf diselenggarakan di Indonesia. Presiden Director PT. Jaya Ritel Indonesia Ulis Silalahi mengatakan berkaca pada tahun sebelumnya, kini 70 persen yang dijual adalah buku anak-anak. 

    Baca juga: 7 Manfaat Membaca Buku untuk Bayi 

    “Saat kita buka pintu untuk pameran ini, semua orang yang masuk itu anak-anak tidak ada yang memegang gadget. Mereka semua megang buku, jadi membuktikan kalau anak-anak diberikan fasilitas itu pasti mereka jadi mau baca,” ujar Uli di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang. 

    Pada tahun 2016 Uli hanya membawa 30 persen buku anak-anak. Karena peminat buku-buku anak semakin banyak, kemudian pada tahun 2017 kuota buku anak ditambahkan menjadi 50 persen buku anak-anak. “Semakin banyak yang datang anak-anak setiap tahunnya. Kelihatannya orang tua ini menyadari kalau buku itu penting banget untuk anak,” tutur Uli.

    Baca buku: Chiki Fawzi Luncurkan Buku Inspiratif untuk Muslimah Muda

    Pengunjung memilih buku yang dijual dalam acara Big Bad Wolf 2018 di ICE, BSD, Tangerang, 30 Maret 2018. Big Bad Wolf Book Sale kembali hadir dan berlangsung selama 12 hari dari tanggal 29 Maret – 9 April 2018 yang digelar 24 jam non stop. TEMPO/Fajar Januarta

    Bahkan di hari Sabtu, yang datang ke pameran Big Bad Wolf kebanyakan keluarga besar. Hal ini membuat Uli terharu karena menandakan buku menjadi sebuah kebutuhan dalam satu keluarga. Dia berharap semakin banyak orang tua menyadari untuk membacakan buku untuk anak dibanding gadget. Dengan begitu misi untuk mencerdaskan bangsa Indonesia semakin bisa tercapai.

    Baca juga: Tip Memilih Buku yang Tepat buat Anak

    Sesuai dengan Uli yang ingin meningkatkan minat baca anak-anak di Indonesia. Berdasarkan data minat baca masyarakat dari UNESCO di tahun 2014, dari 61 negara Indonesia ada di peringkat 60. “Miris sekali. Tapi setelah melihat pameran ini, kenyataannya anak sebenarnya punya minat baca,” lanjutnya.

    ASTARI PINASTHIKA SAROSA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.