Memahami Metode Cuci Otak Dr. Terawan, Kenapa Kontroversial?

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Front Page Cantik. Cuci Otak Obat Stroke. shutterstock.com

    Front Page Cantik. Cuci Otak Obat Stroke. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kontroversi cuci otak seperti yang dilakukan Mayor Jenderal dokter Terawan Agus Putranto sudah lama berlangsung. Di satu sisi banyak pasien Terawan mengklaim terapi cuci otak amatlah bermanfaat untuk membersihkan saluran-saluran darah di otak agar terhindar dari bahaya stroke atau pendarahan yang muncul tiba-tiba.

    Bahkan, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan beserta istrinya pun turut kepincut untuk mencoba terapi ini. Ia sangat senang atas hasil yang didapat setelah diketahui bahwa otak kirinya terdapat penyumbatan.

    Ia pun merasa bersyukur mengetahui penyumbatan otak yang dideritanya dari dokter Terawan. Ia pun menuangkan rasa bersyukurnya lewat sebuah tulisan yang diunggah di Catatan Dahlan Iskan berjudul "Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak".

    Namun metode cuci otak ini ditentang keras dan dianggap konyol oleh para dokter ahli saraf dan dipertanyakan metodenya oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ketua Persatuan Dokter Syaraf Seluruh Indonesia Indonesia (Perdossi) Prof. Dr. dr. Hasan Machfoed, SpS (K), MS, berdasarkan berita Bisnis 2013, menyatakan pertentangan terhadap apa yang dilakukan dokter ahli radiologi tersebut.

    Baca juga:
    Bukti Ilmiah, Cuci Otak Mampu Mengatasi Stroke
    Hati-hati Jika Si Dia Hujanimu dengan Hadiah Mewah, Cuci Otak
    5 Cara Menangkal Cuci Otak  

    Brain washing itu enggak ada dalam istilah medis, itu cuma buat ajang promosi saja biar kesannya attractive,” katanya ketika itu. Menurutnya, cuci otak itu bukan terapi, apalagi tindakan pencegahan. Metode itu hanyalah prosedur diagnosis saja.

    Dia menganalogikannya dengan metode rontgen. Ketika orang di-rontgen untuk diketahui apakah ada masalah dengan organnya, orang tidak bisa langsung sembuh karena itu hanya metode mendiagnosis, bukan terapi, apalagi tindakan prevensi.

    Jadi, menurutnya ketika itu dokter Terawan dan pasiennya itu sudah salah kaprah. Tindakan pencegahan agar orang tidak stroke atau penyumbatan darah di otak adalah dengan cara tidak merokok, olahraga, tidak minum alkohol, mencegah kegemukan, menghindari stres, bukan dengan cuci otak yang sampai kini tak diketahui obat jenis apa yang dimasukkan.

    Letkol CKM dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad, dokter Spesialis radiologi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Dok.TEMPO/ Jacky Rachmansyah

    Hasan menjelaskan hanya ada satu zat yang dapat digunakan untuk menghancurkan pembekuan darah yang menyumbat aliran, yaitu golongan obat yang disebut dengan thrombolysis, di antaranya adalah recombinant tissue plasminogen, activator (Rtpa), streptokinase dan urokinase.

    Namun, obat tersebut sangatlah berbahaya dan dapat menyebabkan pendarahan otak yang dapat merenggut nyawa. Obat ini juga dilarang diberikan untuk tidakan pencegahan. Ia mengatakan tidak mungkin brain washing hanya dilakukan dengan waktu yang 8 menit saja.

    “Efek bahagia dan puas yang dirasakan Dahlan hanyalah efek placebo semata, rasa nyaman psikologis yang tak dapat menyembuhkan apa-apa,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.