Pahami Kakak Perempuan Ogah Dilangkahi Adik Menikah

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi remaja hang out.

    Ilustrasi remaja hang out.

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap orang punya jodoh masing-masing. Tapi apa jadinya jika jodoh tak kunjung tiba, sedangkan adik perempuan sudah ingin menikah dengan pria pilihannya.

    Baca juga:
    Mayoritas Penderita Penyakit Lupus Perempuan, Cek 10 Gejalanya
    Survei: Kinerja Perusahaan Lebih Baik Jika Perempuan Lebih Banyak

    Orang tua biasanya mengalami dilema jika anak perempuan mereka akan dilangkahi oleh adiknya untuk menikah. Sebagai pelipur lara, tak jarang sang kakak dibolehkan meminta apa saja alias hadiah atau 'pelangkah' asalkan memberi restu agar adiknya menikah lebih dulu.

    Namun ada juga kakak perempuan yang menolak dilangkahi menikah oleh adiknya. Keputusan ini bisa dipahami dan membutuhkan kesabaran dalam menghadapinya.

    Psikolog klinis dewasa Pustika Rucita mengatakan, anak perempuan yang dilangkahi menikah oleh adiknya biasanya khawatir dia bakal seret jodoh. "Anggapan ini muncul karena pengaruh budaya dan kepercayaan turun-temurun sehingga mempengaruhi pengambilan keputusan ketika akan memasuki tahap pernikahan," kata Pustika.

    Sulitnya Melakukan Komunikasi dengan Anak Praremaja (Depositphotos)/Tabloid Bintang

    Faktor lainnya adalah tuntutan orang tua. Orang tua berpihak kepada kakak perempuan agar adiknya tak buru-buru menikah sebelum sang kakak. Meski begitu, orang tua juga mendorong kakakk perempuan untuk segera menikah supaya tak kalah cepat dari adiknya.

    "Sepengamatan saya, fenomena ini lebih banyak terjadi pada saudara sesama perempuan karena mungkin ada tuntutan tertentu pada perempuan," katanya. Misalnya, menurut Pustika, perempuan sebaiknya menikah sebelum usia tertentu sehingga kalau 'dilangkahi' menikah akan berpengaruh terhadap jodohnya.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.