Tak Siap Jadi Ibu, Akibatnya Konflik Berkepanjangan dengan Anak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. brandmannews.org

    Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. brandmannews.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Konflik antara ibu dan anak seperti yang terjadi pada Annisa Bahar dan Juwita Bahar, membuat banyak orang heran, apalagi karena masalah yang ada jadi berlarut-larut dan melebar ke sana-sini.

    Menurut psikolog Ratih Ibrahim, konflik antara orang tua dan anak, baik yang terjadi pada Annisa Bahar dan banyak orang tua lain, bisa terjadi karena faktor ketidaksiapan seseorang menjadi orang tua. 

    "Kemungkinan orang tua yang seperti ini punya personal issue yang membuatnya tidak matang sebagai orang tua. Jadi mungkin dia tidak siap," kata Ratih Ibrahim. 

    Oleh karenanya, amat disarankan bagi setiap orang, terutama yang akan segera menikah, untuk juga mempersiapkan diri menjadi orang tua. Salah satunya dengan cara mengikuti program belajar menjadi orang tua.

    "Jadi kita dulu di Dancow bikin program yang namanya "Parents Ready". Karena kita tahu betul yang namanya keluarga itu nukleus bangsa, jadi benar-benar aset. Jadi kalau keluarganya sehat, bangsanya juga jadi sehat. Keluarganya utuh, bangsanya juga jadi utuh. Semuanya itu ada di dalam keluarga, kesehatan jiwa juga dasarnya dari keluarga," lanjut Ratih Ibrahim. 

    Ditambahkan oleh Ratih Ibrahim, belajar menjadi orang tua jangan menunggu setelah memiliki anak. 

    "Keluarga itu kan tidak setelah jadi baru dikelola. Berarti belajar jadi orang tua, khususnya ibu, sudah bisa dilakukan jauh sebelum anak-anak tumbuh besar," kata Ratih Ibrahim.

    "Makanya dulu program Parents Ready ini programnya menyiapkan calon-calon ibu untuk mengerti pengetahuan tentang kesiapan menjadi ibu," jelasnya. 

    AURA

    Baca juga:
    3 Hal yang Dipikirkan Ibu saat Belanja Online Kebutuhan Anak
    Pendongeng Terbaik Buat Anak, Ibu
    Perubahan Otak Wanita Setelah Menjadi Ibu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.