Kalina Oktarani Mau Bercerai. Ini 4 Pemicu Utama Perceraian

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalina Oktarani dan Muhammad Hendrayan. Tabloidbintang.com

    Kalina Oktarani dan Muhammad Hendrayan. Tabloidbintang.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Baru 10 bulan menikah dengan Muhammad Hendrayan, Kalina Oktarani mengambil keputusan menggugat cerai suaminya. Isu perceraian mantan istri mentalis Deddy Corbuzier itu pun jadi santapan media.

    Kalina Oktarani mengaku sudah tak ada kecocokan lagi dengan suami. Belajar dari kasus tersebut, sebenarnya bukan hanya ketidakcocokan yang bisa memicu perceraian.

    Menurut marriage.about.com, ada empat hal yang dianggap menjadi penyebab utama kandasnya sebuah bahtera rumah tangga. Empat hal itu adalah 4A, yakni adultery, addiction, abuse, dan agenda.

    Selain empat masalah yang dianggap "keras" itu, ada penyebab lain yang dinilai lebih "lunak", seperti kebosanan, kurang komunikasi, dan kurang memiliki kesamaan dengan pasangan. Berikut ini empat penyebab terbesar perceraian.

    Artikel terkait:
    Kasus Kalina Oktarani, Perceraian Bisa Dihindari dengan Kiat Ini
    9 Kiat Memulai Hubungan Baru Setelah Perceraian
    Perceraian Bikin Pemasukan Hilang, Ini yang Harus Dilakukan Istri

    1. Perselingkuhan (adultery)
    Meski selalu ditentang dari segi agama, sosial, moral, dan mungkin juga hukum, bahkan dianggap kriminal di beberapa tempat, perselingkuhan selalu saja terjadi. Buat sebuah perkawinan monogami, perselingkuhan memang menjadi masalah yang sangat serius.

    2. Kecanduan (addiction)
    Ada bermacam-macam kecanduan, seperti pada minuman beralkohol, narkoba, judi, seks, menonton film porno, dan belanja. Kecanduan tak hanya bersifat fisik, tapi juga psikis. Kebanyakan orang yang memiliki kecanduan tak menyadari bahwa sikap mereka merusak, di luar kontrol, dan menimbulkan masalah dengan pasangan atau orang di sekitar.

    3. Kekerasan (abuse)
    Kekerasan bisa bersifat fisik, emosional, verbal, atau ekonomi. Kekerasan fisik, seperti memukul, juga sering disebut sebagai kekerasan rumah tangga. Kekerasan emosional bisa berupa cemburu, terlalu mengontrol pasangan, atau tidak memberi perhatian. Kekerasan ekonomi berupa pasangan yang terlalu mengontrol keuangan dan membuat yang lain tidak berdaya serta hidup pun tidak bahagia. Sedangkan kekerasan verbal berupa caci-maki dan kerap berujung pertengkaran.

    4. Tidak ada kesepakatan (agenda)
    Masing-masing memiliki agenda sendiri sehingga tidak ada kesepakatan, apalagi kalau salah satu pihak tidak mampu menyesuaikan diri. Contohnya, suami ingin mencari pekerjaan baru di kota besar, sedangkan istri lebih ingin pindah ke luar kota tempatnya berasal.

    Perceraian sebenarnya bisa dihindari. Cobalah membangun komunikasi yang lebih baik dengan pasangan. Bila jalan masih juga buntu, mintalah bantuan tenaga profesional, bisa juga bantuan dari terapis atau keluarga kedua belah pihak.

    YAYUK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.