Jamur Kuku Tampak Sepele tapi Susah Diobati, sampai Perlu Operasi

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kuku rusak. shutterstock.com

    Kuku rusak. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kuku kaki, terutama di jempol, berwarna kuning, coklat, atau kehitaman. Hati-hati, itu tanda adanya jamur kuku. Sekitar 10 persen orang dewasa mengalami masalah ini dan jumlahnya terus meningkat sampai 50 persen, terutama pada mereka yang sudah berumur.

    Pada awalnya, kita tak terlalu peduli dengan jamur kuku ini, terutama bila sering berenang di kolam umum atau kaki sering berkeringat dalam sepatu tertutup. Seperti dilansir askdrmanny.com, jamur kuku, atau onychomycosis, biasanya berawal dengan titik putih atau kuning di bawah kuku, dan kebanyakan orang tak menaruh perhatian.

    Kuku kemudian menebal, warnanya berubah, dan pinggirnya geripis. Saat itu lah kita baru sadar sedang bermasalah dengan jamur kuku dan ingin mengatasinya. Sebagian orang juga mengalami masalah bau tak sedap dan nyeri pada kuku yang berjamur itu lalu berkonsultasi ke dokter, sebagian lain berusaha merawat sendiri.

    Ada beberapa cara untuk mengatasi jamur kuku. Salah satunya dengan krim antijamur yang dijual bebas. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa obat batuk juga bisa membantu mengatasi masalah jamur ini karena 83 persen penderita sudah merasakan dampak positifnya dan 23 persen kasus jamur kuku sembuh dalam waktu 48 minggu atau setahun.

    Baca juga:
    5 Penyebab Umum Leukonisia, Masalah Kuku yang Sering Bikin Malu
    Mengenal Leukonisia, Gejala, dan Cara Mengatasi
    Kuku Menguning dan Mudah Patah. Jangan Anggap Enteng

    Tak ada pengobatan yang menjamin bisa mengusir jamur kuku dengan total dan cepat. Beberapa obat antijamur yang harus dibeli dengan resep terbukti cukup efektif. Terbinafine dan itraconazole cukup ampuh untuk mengatasi masalah ini dalam waktu 6-12 minggu, tapi bisa juga sampai empat bulan atau lebih untuk melihat hasil kompletnya.

    Sayangnya, pengobatan ini memiliki efek samping yang mengganggu, mulai dari kulit merah-merah dan masalah perut sampai kerusakan liver dan masalah jantung. Tes darah rutin harus dilakukan untuk memonitor kesehatan pasien bila mengkonsumsi obat antijamur tersebut.

    Cara lainnya adalah pengobatan dengan cat kuku khusus atau krim antijamur yang harus dibeli dengan resep. Kedua pengobatan tersebut memakan waktu lebih lama tapi efek sampingnya lebih sedikit.

    Cara lain yang relatif baru adalah dengan teknologi laser. Meski butuh penelitian lebih lanjut, pengobatan dengan laser sudah terbukti cukup ampuh dan aman mengusir jamur kuku. Efek sampingnya paling hanya kulit di sekitar yang memerah dan membengkak. Hanya saja pengobatan ini mahal dan biasanya tidak diganti kantor atau asuransi.

    Dalam kasus yang ekstrem, jamur kuku diatasi dengan cara membuang seluruh kuku. Butuh waktu setahun sampai kuku yang baru tumbuh dan masa ini sangat tidak menyenangkan bagi penderita. Bantalan kuku juga diberi obat antijamur untuk memastikan tak ikut terinfeksi.

    Risiko dari operasi kecil ini adalah rasa sakit, infeksi, dan kuku baru yang tak tumbuh sempurna. Meski cukup efektif, pengobatan dengan membuang kuku ini tak menyembuhkan 100 persen dan beberapa penderita harus menjalani prosedur ini lebih dari sekali.

    YAYUK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.