Porsi Sarapan Anak Tak Harus Banyak Bunda, Simak Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak sarapan. shutterstock.com

    Ilustrasi anak sarapan. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagian terpenting dari sarapan adalah gizi yang seimbang. Selama ini mayoritas ibu berasumsi bahwa agar gizi anak tercukupi, porsi sarapan mesti dibuat lebih banyak.

    Dr dr Samuel Oetoro, MS, SpGK mengingatkan, porsi sarapan yang terlalu besar justru membuat anak kurang produktif di sekolah. Salah satunya karena mengantuk. Penyebabnya, aliran darah akan turun ke sistem pencernaan sehingga sangat sedikit yang tersisa di otak.  

    Baca juga: Sebab Anak Mengantuk Setelah Sarapan

    Lebih lanjut, Samuel menyebut bahwa porsi sarapan setiap anak berbeda-beda, tergantung berat badan, tinggi badan, usia, dan aktivitas harian anak. Semakin tinggi dan semakin berat bobot anak, porsi sarapannya lebih besar. Kecuali untuk anak yang kelebihan berat badan, porsi sarapannya harus disesuaikan.

    Untuk menakar porsi sarapan, Samuel berbagi trik. Pertama, cermati kebiasaan makan anak dan bagaimana aktivitasnya di sekolah. "Apakah ketika pulang anak kelihatan loyo? Setelah itu, tanyakan kepada anak Anda bagaimana kondisi tubuhnya. Kalau dia merasa susah berpikir, berarti otaknya kurang energi," ujarnya.

    Baca juga: Sebab Anak Mengantuk Setelah Sarapan dan Sayur

    Hal tersebut menandakan anak kekurangan asupan makanan. Perlu diingat bahwa rata-rata kalori menu sarapan sekitar 25-30 persen dari total kalori harian, sedangkan total kalori harian anak biasanya berkisar 1.500 hingga 2.000 kalori. "Orang tua patut mengindahkan hal ini,” ujar Samuel. 

    Baca juga: Perhatikan Komposisi dan Waktu Sarapan Anak 

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.